Historical Fiction : Memoir Untuk Anak-Anak

Saya selalu tertarik pada buku-buku bertema sejarah termasuk fiksi sejarah atau historical fiction. Kebetulan di forum AFCC tahun 2018 lalu (iya, memang sudah lama), banyak dibahas tentang buku bergenre historical fiction untuk pembaca anak-anak. Salah satu gaya bercerita dalam genre ini adalah dengan membuat memoir.

Apakah itu Memoir?

Dua definisi yang saya temukan di Cambridge Dictionary tentang Memoir adalah :

  1. “A book or other piece of writing based on the writer’s personal knowledge of famous people, places, or events”  
  2. “a written record of a person’s knowledge of events or of a person’s own experiences”

Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa memoir adalah buku atau catatan yang dibuat berdasarkan pengalaman atau pengetahuan pribadi penulisnya terhadap sosok tertentu baik sosok orang lain atau dirinya sendiri , tempat atau peristiwa tertentu.

Beberapa memoir paling terkenal yang mengisahkan tentang kehidupan anak-anak antara lain adalah buku Diary of Anne Frank dan I am Malala

Mungkin saya memang kurang pengetahuan atau kurang pendidikan karena tadinya saya mengira bahwa buku Memoir hanya cocok dituliskan oleh dan tentang orang-orang yang terkenal dalam sejarah atau yang kisah hidupnya tragis atau yang berjasa untuk dunia atau yang menginspirasi banyak orang, seperti Anne Frank dan Malala Yousafzai.

Ternyata saya salah.

Memoir bisa juga dituliskan oleh orang kebanyakan. Terlebih lagi Memoir dapat dikemas menjadi bacaan anak-anak, terutama Memoir yang menceritakan kisah hidup si tokoh utama sewaktu masih kecil.

Knowing History Through Children’s Book

Di atas adalah judul salah satu sesi yang saya hadiri di forum AFCC tahun 2018. Pembicaranya adalah tiga orang penulis asal Singapura yaitu Josephine Chia, Sim Ee Wan dan Radhika Dhawan Puri.

Ketiga pembicara membagikan behind the scene penulisan buku Memoir mereka, buku yang menceritakan kisah masa kecil mereka atau anggota keluarga mereka. Salah satu pembicara yang saya sukai adalah Josephine Chia. Isi sharingnya sangat menarik. Mereka menulis dengan sangat jujur tentang kenangan masa kecil di kampung tempat mereka tumbuh besar puluhan tahun lalu, kampung yang saat ini sudah tidak ada lagi karena sudah digantikan oleh bangunan-bangunan tinggi apartemen. Josephine menulis tentang kehidupan (yang sudah lama hilang) di Kampung Potong Pasir, sementara Sim Ee Wan bercerita tentang Palmer Road.

Growing up at Kampung Kampung Potong Pasir

Ceritanya sederhana sekali, dan dituliskan dengan gaya bak menulis buku harian. Namun cerita yang sederhana itu begitu menarik. I can’t help feeling captivated since the very first page. Di bawah ini adalah cuplikan dari halaman pertama buku “Growing Up in Kampong Potong Pasir” :

I bet you can read English by the time you were seven.

Did you know that I could’t? Do you want to know why? Because I did’t get to pre-school, kindergarten or even school!

But in 1958, when I was about seven, I had a very special awakening. It was as if I had been asleep a long time and suddenly woke up. Some call this kind of experience an epiphany. I was staring at a MILO tin which was green in colour and there was a white, broad bubble across the tin. There were words in the bubble and on the tin. But the words were mere squiggles to me! They have no meaning for me!

I suddenly realised that I could not read!

Membaca halaman pertama ini menggelitik keigintahuan, bagaimana bisa seorang anak usia 7 tahun yang tinggal di Singapura belum bisa membaca? Kehidupan seperti apa yang berlangsung di Kampung Potong Pasir di masa itu? Di mana Kampung itu sekarang?

Reaksi dari si Adik saat membaca halaman pertama ini lebih heboh lagi. Dia langsung histeris; “Mama, I am seven and I can read, how come she cannot? Is she really stupid? Is that why she cannot learn to read?”

Si Adik secara instant merasa terhubung dengan si tokoh utama, simply karena usianya sama-sama tujuh tahun. Setelah membaca buku itu lebih jauh, si Adik lebih heran lagi karena ternyata di Singapura tahun 1950an masih banyak terdapat perkampungan kumuh di dekat rawa-rawa yang penduduknya harus setengah mati bertahan hidup di lingkungan yang serba terbatas, bahkan anak-anak pun ada yang bekerja di pabrik pembuat amplop hingga tanggannya luka berdarah-darah. Buku itu kemudian bercerita tentang perjuangan si tokoh utama untuk mendapatkan pendidikan dengan cara berjualan nasi lemak. Diceritakan juga bagaimana si tokoh utama jatuh bangun beradaptasi dengan lingkungan sekolah termasuk menghadapi bullying. Terselip di sana sini kisah lucu dan menyentuh tentang kehidupan di kampung di masa itu.

The House on Palmer Road

Berbeda dengan buku Growing up at Kampung Potong Pasir, buku The House on Palmer Road lebih ringan dan fun. Buku ini bercerita tentang cerita-cerita seru dari masa kecil Si-Hoe yang dituliskan oleh Sim Ee Wan. Si Hoe sendiri saat ini sudah berumur 83 tahun.

Latar belakang cerita adalah kehidupan di Palmer Road, Singapura tahun 1930. Sing (nama panggilang Si Hoe), hidup dalam keluarga besar, dengan ayah, ibu, dan 9 orang saudaranya.

Begini cuplikan kisah di Palmer Road :

Down the dirt track beyond the bend at Mount Palmer were four or five warehouses that stood near a thick cluster of huge angsana trees. Their tall iron gates were always shut, and the buildings were always closed and silent. We had never seen lorries or people go there, and it was always dark in the deep shade of the angsana trees. From our driveway, it looked sinister. We never dared venture near…

Karena sukanya saya pada buku memoir Josephine Chia dan Si-Hoe, saat saya datang lagi ke forum AFCC 2019, saya membeli kembali lanjutan serial Kampung Potong Pasir : Big Tree in a Small Pot dan lanjutan memoir Si-Hoe : The House on Silat Road

Kisah di Silat Road lebih serius karena menceritakan bagaimana perjuangan penduduk Singapura di bawah pendudukan Jepang tahun 1940an. Walaupun demikian, buku ini tetap menarik untuk dibaca

Salah satu cuplikan buku The House on Silat Road

Mengapa buku-buku seperti ini penting?

Menurut saya, karena:

  1. Buku-buku seperti ini menimbulkan kesadaran (create awareness), tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang hidup sebelum kita, singkatnya tentang sejarah. Kenapa awareness ini penting?
  2. Karena sejarah adalah bagian dari pembentuk identitas kita saat ini. Selain itu apa lagi yang penting?
  3. Deskripsi yang sangat detail di dalam buku-buku memoir ini bisa memberikan pengetahuan yang sangat lengkap pada anak-anak tentang tempat, suasana, situasi dan kehidupan pada suatu masa yang mungkin sekarang sudah tidak sama lagi.

Bagaimana di Indonesia?

Beberapa waktu lalu, saya menemukan sebuah buku di perpustakaan saya di rumah yang berjudul “Panggil Aku Sri” karangan Li Phan. Saya tidak ingat di mana membeli buku itu. Saat saya menulis artikel ini, saya tidak bisa menemukan buku ini lagi di perpus saya (mungkin terselip di rak buku si Adik atau si Kakak di kamar mereka), jadi tidak bisa saya foto. Anyway, buku ini bercerita tentang Sri dan Moko yang hidup di sebuah desa di Jawa Tengah pada tahun tujuh puluhan. Ada cerita lucu dan unik tentang Perayaan Tujuh Belasan pada waktu itu, kegiatan mencari kayu di hutan, pergi ke pasar yang hanya buka di hari-hari tertentu dan banyak lagi.

Sayangnya memang buku-buku seperti ini tidak banyak. Kalau ada yang tahu contoh lain, tolong info saya.

Well, untuk menambah alternatif buku-buku historical fiction seperti ini, mungkin sekarang saatnya kita menulis Memoir kita masing-masing 🙂

Baca juga :

Iklan
Ditandai sebagai: