Inilah Proses Saya Membuat Picture Book

Warning: mengikuti langkah dalam tulisan ini mungkin berbahaya bagi anda!

Sebenarnya sudah lama saya ingin sharing pengalaman dalam menulis buku picture book. Namun niat ini maju mundur karena mungkin semua langkah yang saya lakukan dari menangkap kelebatan ide hingga menjadi buku tidak ada yang cocok dengan teori. Lagipula saya belum menjadi penulis kaliber ultra, belum senior. Masih baru. Tetapi, ehem, karena keinginan untuk sharing ini meledak-ledak, maka saya tuliskan juga. Maka tulisan ini saya bilang ‘sharing’ sekedar berbagi saja. Dan sudah saya tulis di bawah  judul lo ya – untuk tidak mengikuti cara saya ini 🙂 . So don’t tell me anda tidak pernah diperingatkan sebelumnya *grin*

Oke, beginilah tahapan-tahapan yang saya lalui saat menulis buku bergenre cerita bergambar untuk anak-anak:

1. Menggali Ide

Bagi saya ide itu bisa berloncatan dengan sendirinya saat sedang main dengan anak-anak. Jadi gak usah dicari, nanti juga nongol-nongol sendiri. Dan kunci penting lainnya dalam menggali ide adalah : banyak-banyaklah bengong! #plak

Serius! Saat bengong bayangkanlah hal-hal yang enggak-enggak. Misalnya kue donat bisa terbang, atau awan berwarna merah, or cecak berbaju polkadot, atawa bunga bakung bersayap. Pokoknya explore your wildest imagination lah. (fyi, ini contoh-contoh berasal dari khayalan saya sendiri).  Dahuluu kebiasaan bengong dan berkhayal ini bagaikan suatu penyakit buat saya. Sekarang setelah tahu dunia tulis menulis, khayalan itu bisa jadi sumber ide tak terbatas. Mungkin ini yang namanya ‘seni bengong’, the art of doing nothing

2. Memberi batasan pada Ide

Sesudah dapat ide dasar, saya akan tentukan akan dibawa ke mana ide ini. Nilai atau pengetahuan macam apa yang mau saya tanamkan pada anak-anak. Cerita seperti apa yang ingin saya buat. Imaginasi bebas bukan berarti bisa melantur tanpa arah tujuan. Apalagi yang namanya cerita bergambar, biasanya untuk anak usia dini, anak usia dini belum bisa milih buku sendiri, pasti papa mamanya yang beliin, papa mama biasanya lebih suka melirik buku yang ada “pesan”nya 🙂 (btw ini pendapat pribadi)

3. Menentukan format

Buat saya, ini adalah bagian yang paling menyebalkan dan membosankan *sigh*

Di langkah ketiga ini saya harus menentukan jumlah halaman plus judul, jumlah kalimat per halaman, jumlah kata per kalimat, berima ataukah tidak, bentuk pantun atau narasi, dan kadang, jumlah ilustrasi. Format ini tentu saja bisa diacak-acak lagi oleh editor nanti, tapi paling tidak saat mengajukan naskah ke penerbit, penulis sudah punya konsep dulu tentang format yang diinginkan.

4. Tulis!

Saya tidak dapat menulis sebelum menyelesaikan tiga tahapan di atas. Hal ini mungkin berbeda bagi penulis lain yang terbiasa menulis saja, pikirkan konsep dan format belakangan. Saya tidak bisa begitu. Proses yang saya jalani harus runut dari langkah 1,2,3 baru 4, menulis. Kalau tidak organisasi ide dalam otak saya bisa tercerai berai tanpa ujung pangkal.

5. Mencari Penerbit

Langkah ini sudah tak perlu dibahas lagi. Semua penulis pasti sudah tahu suka dukanya. Intinya muka temboklah dan jangan menyerah. Saya juga pernah ditolak penerbit dengan alasan yang paling absurd kog.

6. Mencari ilustrator

Berdasarkan pengalaman, saya ajukan dulu naskah pada penerbit, setelah penerbit acc barulah mencari ilustrator. Fee ilustrator pun biasanya akan dihandle langsung oleh penerbit. Memang ada penerbit yang minta penulis melengkapi naskah dengan ilustrasi terlebih dahulu sebelum mereka memberikan acc. Tapi saya memilih untuk tidak (lagi) mengirim naskah ke penerbit tipe kedua ini karena terus terang, saya irit, miskin bin pelit, jadi rasanya berat ngeluarin biaya di awal untuk mencari sampel ilustrasi.

Saya sudah pernah bekerjasama dengan beberapa ilustrator luar biasa. Tanpa ilustrasi, naskah saya itu takkan ada apa-apanya. Dengan batuan para ilustrator handal itulah cerita bisa jadi lebih hidup. So, salam hormat untuk para ilustrator 🙂

Oh iya secuplik hasil karya para ilustrator buku-buku saya bisa diintip di laman “my books” di menu di atas.

7. Review review review, edit-edit-edit

Pusing, bete, writer block, ogah-ogahan, sering ditinggal tidur dan biasanya baru mulai lancar kalau sudah mepet deadline. Inilah gambaran sempurna untuk apa yang saya alami pada tahapan ini *cengir* Dalam proses review dan editing, sebagai penulis pemula saya lebih banyak manut pada arahan editor, karena beliau-beliau itulah yang lebih tahu tentang selera pembaca, gaya penceritaan yang sedang ‘in’ , tema yang lagi ‘happening’ dan kemasan yang lebih cihu.

8. Tell the world!

Review done. Selesai. Sambil nunggu naik cetak. Silakan narsis 🙂 Pasti sudah tidak ada lagi yang perlu diajari bagaimana caranya. Walaupun royalti baru akan datang beberapa bulan kemudian, pasti rasanya saat buku terbit itu sudah keperti kejatuhan duren sepohon-pohonnya 🙂

Oke sekian. Semoga tidak ada yang tersesat gara-gara mengikuti langkah-langkah dalam artikel ini 🙂

Iklan