Historical Fiction Untuk Anak-Anak : Bringing History to Life – Part 2

Masih melanjutkan dua artikel terdahulu : Historical Fiction Untuk Anak-Anak : Bringing History to Life – Part 1 dan Historical Fiction : Memoir Untuk Anak-Anak, di artikel yang ini saya akan menceritakan pengalaman saya (masih di forum AFCC 2018) bertemu dengan salah seorang penulis novel Historical Fiction, Pamela Rushby. Pamela adalah novelist asal Australia yang sangat banyak menulis novel untuk dewasa muda (young adult), yaitu pembaca dengan kelompok umur 12 hingga 16 tahun. Buku-bukunya juga sudah banyak mendapatkan penghargaan. Untuk tahu lebih lengkap tentang Pamela Rushby, silakan menggoogle sendiri. 

Di Forum AFCC 2018, Pamela Rushby tidak membicarakan bukunya, ia menjadi pembicara untuk suatu topik yang lain, jadi tidak ada tips-tips khusus yang saya dapat tentang bagaimana menulis buku historical fiction untuk pembaca muda. Tetapi dari pembicaraan singkat kami off-line, saya mengetahui bahwa sama seperti penulis historical fiction lainnya, riset adalah segala-galanya.

Di salah satu bukunya, When the Hipchick Went to War, Pamela Rushby mengangkat cerita tentang Kathy, gadis muda Australia berusia 16 tahunan yang pergi ke medan perang Vietnam untuk menjadi penyanyi dan penari untuk menghibur para prajurit di medan perang. Cerita ini fiksi tetapi terinspirasi dari kisah nyata.

Pembaca diajak untuk mengikuti jalan pikiran dan perasaan Kathy karena cerita dibuat dalam sudut pandang orang pertama. Untuk menulis buku ini, Pamela pergi mengunjungi basis pertahanan tentara Australia saat perang Vietnam bersama serombongan veteran. Selain melalui riset lapangan, Pamela juga menggunakan berbagai sumber buku referensi yang daftarnya dituliskan di halaman akhir buku.

Kesan pertama saya membaca buku ini : buku ini sangat jujur, menyentuh dan benar memberikan gambaran tentang kehidupan di garis belakang medan perang Vietnam. Bagaimana gadis-gadis yang baru besar ini menemukan kenyataan bahwa perang tidaklah romantis, war claims life, atau dalam kalimat si Pengarang : Kathy soon finds the reality of war is no song and dance

Ini dia cuplikan dari Bab awal buku :

When I went to Vietnam, I packed a suitcase full of satin bikinis trimmed with fringes. A pair of knee-high white boots. Mini-dresses, ultra short, sparkling with spangles. A platinum-blonde wig. False eyelashes like hairy black catepillars. Tap shoes. Heaps of Max Factor make-up. I was sixteen years old and I was going to a war.

I didn’t have a clue.

By the time, I came back, I’d seen mud and blood and tears. I’d sung and I’d dance while bombs exploded not far away. I’d lain flat on my face while bullets cracked over my head. I’d laugh hysterically and I’d cried more that I’d ever cried before, and I’d drunk a lot more than was good for me. I’d seen people die. I didn’t come back the same girl I was when I left.

Bagaimana kesan pertama membaca paragraf di atas? Do you think the material is too dark for children? Hm, saya memberikan buku ini untuk Si Kakak, she’s 12 when reading this book. Si Kakak membacanya hingga selesai, namun menolak untuk memberikan komentar. She just said : it is beyond words. Artinya, cerita ini membekas walaupun bukan cerita happy-happy yang lebih ia sukai.

Selain buku ini, saya juga menemukan satu novel historical fiction lainnya untuk young adult, judulnya “The Boy in Stripes Pajamas” karangan John Boyne. Buku ini juga saya beli untuk oleh-oleh si Kakak. Ceritanya tentang persahabatan Bruno, seorang anak laki-laki berusia 9 tahun, anak dari salah satu komandan Nazi, dengan Smuel, bocah Yahudi yang menjadi tahanan di kamp konsentrasi di Jerman pada saat perang dunia kedua. Ceritanya juga menyentuh dan sudah difilmkan juga.

Hasil gambar untuk the boy in striped pajamas

Bagaimana dengan di Indonesia. Berbeda dengan novel historical fiction untuk pembaca dewasa yang sudah mulai banyak ada, terus terang saya belum menemukan buku sejenis ini untuk pembaca remaja atau young adult. Mungkin karena pasarnya juga tidak ada, alias hanya sedikit anak remaja yang mau membaca buku seperti ini. Anak usia remaja biasanya memang lebih suka membaca cerita romance atau horor. Tetapi barangkali saja saya yang kurang keras mencari. Jadi apabila ada yang punya referensi novel historical fiction untuk pembaca remaja, bolehlah diinfokan ke saya.

Baca juga :

Iklan
Ditandai sebagai: