Bagaimana Saya Menciptakan Karakter Dalam Novel-Novel Saya

Warning : Banyak ajaran sesat – Hati-Hati bila ingin meniru cara-cara dalam artikel ini.

Haha! Saya tidak tahan untuk tidak membuat artikel ini, artikel tentang bagaimana saya menciptakan atau lebih tepatnya ‘menemukan’ karakter-karakter dalam novel-novel saya yang jumlahnya baru beberapa biji itu. Padahal cara-cara saya ini tidak sesuai dengan teori penulisan manapun. Namun saya tergelitik juga membaca beberapa panduan, bahan ajar, petunjuk dalam blog yang panjang lebar dalam hal pembuatan karakter. Kayaknya kog njelimet dan ruwet banget. Sedangkan yang saya lakukan sangat simpel (menurut saya). Mungkin karena jenis novel yang saya tulis adalah jenis populer, bukan sastra, untuk anak-anak pula yang relatif lebih tipis dibanding novel dewasa. Jadi dengan langkah simpel pun jadi. Namun saya pikir, apa salahnya sharing. Toh ini sharing saja, berbagi pengalaman.

Pagi para pembaca, jangan lupa warning di atas: artikel ini berisi ajaran sesat hehe 🙂

Kartu Biodata, perlukah?

Secara teori, saya pernah diajari untuk membuat kartu biodata karakter yang berisi, antara lain : nama karakter; ciri-ciri fisik karakter meliputi tinggi badan, berat badan, warna rambut, warna mata, potongan rambut, bentuk rambut, cara berpakaian, cara bersepatu,cara berdandan, ciri wajah seperti bentuk hidung, telinga, bibir, dll. Lalu saya harus menentukan umur karakter, bahkan tanggal lahirnya sekalian *gubraks* supaya ketahuan zodiaknya yang mungkin memengaruhi sifat berdasarkan bintang-bintang. Kemudian cara berjalan, sekolah di mana, kelas berapa, pelajaran yang disukai apa, makanan favorit, hobi, pakaian kesukaan, tokoh karakter / grup band kesayangan, dll, dsb. Pokoknya komplit.

Terus terang, saya bisa mati nungging, kalau harus membuat biodata seperti ini. Bisa-bisa saya habiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk membuat ‘kartu biodata’ karakter, nulis naskahnya sendiri justru malah gak mulai-mulai karena terlalu sibuk membuat biodata.

Lalu apa yang saya lakukan?

Pertama, saya tentukan nama. Nama bisa mencomot dari mana saja. Biasanya saya sesuaikan nama dengan seting cerita. Misalnya kalau ceritanya di Jawa Tengah saya buat namanya berbau-bau Jawa. Selain itu nama juga biasanya saya sesuaikan dengan context cerita. Kalau ceritanya tentang komunitas Tionghoa atau Bule Eropa, tentu dipilih nama yang sekiranya cocok.

Tentukan ciri-ciri fisik apa yang paling menonjol dari tiap tokoh. Saya bilang ‘paling’ lo ya, jadi tak perlu membuat daftar semua ciri fisiknya, namun hanya yang peling menonjol saja. Misalnya si Ira dalam novel saya yang terbaru punya ciri khas rambut yang sangat panjang dan tubuh tinggi. Contoh lain si Ito dalam novel Kota Tua punya ukuran kepala besar, tubuh super ceking dan kacamata bulat jumbo.

Tentukan sifat yang paling unik dari tiap tokoh. Kali ini saya bilang sekali lagi ‘paling’ jadi pilihlah satu atau beberapa sifat yang paling menonjol dari tiap tokoh. Sifat ini haruslah sifat yang mempengaruhi peran si tokoh dalam jalinan cerita. Misal, si A tomboy, cerewet. Si B melankolis, pemalu, penakut. Si C pinter tapi cengeng. Si D cengengesan, tidak pandai tapi pinter bikin orang ketawa. Dll, dsb. Supaya menarik, dalam menentukan sifat unik ini saya sering membuat pertentangan, pasangan tak lazim, odd, berlawanan. Contoh si A yang jenius dan pendiam dipasangkan dengan si B yang tak pandai namun periang. Si C yang galak dipasangkan dengan si D yang penakut.

Untuk hal-hal lain saya tentukan secara garis besar saja. Misal saya hanya bilang si A umur 12, kelas 6 SD. Untuk hobi, bakat, dan karakter-karakter lain untuk dilekatkan pada si tokoh, saya pilih yang benar-benar penting dan memengaruhi alias punya peran dalam jalan cerita. Misal si B hobi fotografi dan dalam cerita memang dia mendapat banyak keuntungan dalam menemukan pentunjuk untuk memecahkan misteri dengan hobinya itu.

Dengan begini saya merasa lebih punya banyak waktu dan energi untuk menggali lebih ke dalam plot cerita karena saya tidak perlu dipusingkan dengan hal-hal lain yang tidak begitu material untuk novel action misteri bertempo cepat. *catat ‘novel misteri bertempo cepat*

Kesulitannya, saya sering kehabisan ide dalam menentukan sifat atau ciri khas unik setiap tokoh. Ada kalanya saya merasa ‘sepertinya tokoh dengan sifat seperti ini sudah pernah ada ya? atau sepertinya karakter tokokku yang ini kog jadi mirip dengan karakter di buku itu ya? atau kog saya membuat tokoh yang sifatnya gini-gini aja ya? Hampir sama terus dari buku ke buku. Untuk mengatasinya inilah yang saya lakukan…

Sumber Ide Karakter

Teman, saudara, orang di sekitar kita. Ini sumber ide paling banyak dan murah. Trust me, kalau diobservasi sungguh-sungguh, banyak banget karakter orang di sekitar kita yang unik J *seringai jahil* Atau bisa juga diingat-ingat karakter-karakter orang-orang yang pernah lewat dalam hidupmu, yang mungkin sekarang entah dimana.

Dalam novel-novel saya, kadang saya sertakan satu dua tokoh yang saya ambil dari dunia nyata, dengan ciri khas dan sifat yang memang milik si tokoh nyata. Tapi tentu saya minta ijin dulu. Daaan para teman baik itu justru happy bisa eksis dalam novelku hihi 🙂

Karakter dalam buku, film, cerita lain yang sudah pernah ada. Tidak. Saya gak bilang untuk plagiat lo ya, mengambil mentah-mentah karakter tokoh itu. Maksud saya, ambil, modifikasi , gabung-gabungkan sesuai kebutuhan cerita dan idemu sendiri.

Sekian saja sharingnya. Sekali lagi ini bukan ngajarin, saya berbagi pengalaman. Wong saya juga pemula. Masih harus banyak belajar. Kalau mau niru, resiko tanggung sendiri, okeh!

 

Iklan