Misteri Kampung Hitam – Behind the Scene

Buku ini, adalah novel misteri yang kutulis dalam jangka waktu yang paling lama. Jika buku pertama dan kedua bisa ditulis dalam waktu satu bulan saja, maka buku ini menghabiskan waktu berbulan-bulan. Penyebabnya utamanya adalah tidak pede dengan si naskah dan plot yang terlalu ruwet sehingga saya sebagai penulisnya pun jadi ikutan bingung sendiri.

Ide – Dibenci saat muncul

Sebenarnya saat selesai menulis buku ketiga yang berjudul Misteri Topeng Angker, saya punya tekad bulat untuk mengistirahatkan otak dan batin dari kegiatan tulis menulis. Otak saya sampai berasap hampir gosong saat mengerjakan novel ketiga dan emosi saya juga cukup terkuras, so setelah si Topeng Angker itu selesai saya berniat baja untuk istirahat. Tak mau menulis dulu. Mau santai. Tidur nyenyak.

Tapi niat tinggal niat. Seperti biasa, saya menghabiskan waktu bersantai dengan membaca buku. Hanya saja, sialnya saat itu saya memilih buku yang salah. Buku yang saya comot sembarangan dari rak buku di ruang perpus mini di rumah, ternyata adalah buku dokumenter karangan Van Kessel yang berisi sejarah menarik kehidupan suatu komunitas tentara bayaran di kota Purworejo yang berperang di pihak Belanda. Buku tentang kelompok manusia yang sekarang sudah nyaris tidak ada jejaknya lagi di Indonesia. Setrum di otak saya mendadak menyala. Momen kesambet datang lagi!

Saya benci sekali ide ini datang saat saya berniat istirahat. Tapi saya tahu, seperti pengalaman menulis novel-novel sebelumnya, saat momen kesambet datang, maka tidak ada yang bisa membendungnya. Pikiran saya akan mengambil alih raga saya, dan mau tidak mau saya harus dan akan menulis (haiyaaah bahasanya…)

Picnic Research

Ini bagian paling menyenangkan. Dalam setiap proses menulis, research lapangan, atau yang sekarang saya sebut picnic research (ini istilah saya saja lo ya) selalu menggembirakan karena itu artinya jalan-jalan, alias piknik sambil riset. Tadinya saya tidak berniat melakukan survey lapangan karena ada hal lain yang harus saya lakukan di Jakarta, terlebih lagi dua teman ngebolang saya (yang pernah ikut nemenin saya nyari data di Indramayu untuk novel Topeng Angker), Cici Sierli dan Bibi Nana tidak bisa ikut. Tapi memang dasar takdirnya ini novel harus ditulis berdasarkan in-situ observation, di detik terakhir saya ingat ada teman kuliah saya: Ibu dosen Tami, yang masih bercokol di Yogya, kota yang hanya satu jam perjalanan saja dari Purworejo. Setelah dihubungi, ternyata Tami tak keberatan ikut digelandang ke Purworejo, nemenin saya blusukan mencari inspirasi hehehe.

Dari diskusi dengan Tami, ternyata di luar ekspetasi saya, Tami tak hanya menawarkan diri menjadi tour guide, tapi Ibu dosen cantik itu bersedia pula minjemin segala jenis literatur yang dimilikinya yang mungkin ada gunanya untuk menyusun novel saya. Mulai dari buku-buku text book dari segala penjuru dunia (yang sumpe keren banget tapi gak semuanya saya mengerti bahasanya), link-link ke perpustakaan digital universitas di Belanda sonoh, database yang memuat foto dan peta-peta kuno jaman Dutch-East-Indies daaaaan…bahan-bahan disertasinya yang priceless itu…. *i lop u ful Tami*

Data literaure

Dengan memanfaatkan kelihaian Tami mengorek informasi dari penduduk sekitar, saya bisa menelusuri semua jejak-jejak sejarah yang disebut dalam buku Van Kessel. Mulai dari perkampungannya hingga kawasan makam yang digunakan komunitas tentara bayaran itu. Selain itu saya juga sempat menjelajah hampir sebagian besar kawasan kuno di kota itu dan gua Jepang yang mencapainya harus susur jurang dengan mobil Avanza (waks!) mempertaruhnya nyawa, tapi bisa dapat a glimpse of pemandangan memesona Pantai Selatan yang berwarna keperakan dari lereng bukit Menoreh.

Survey Kampung Hitam

Saya juga berhasil masuk ke sebuah fasilitas militer (tapi tak boleh foto) yang di dalam kompleksnya ada sumur yang konon merupakan tempat pemenggalan kepala di jaman revolusi kemerdekaan. Saya tidak memasukkan setting ini ke dalam novel saya, karena terus terang saya jadi ketakutan sendiri….dan sepertinya sejarah yang seperti ini, walaupun benar kog terlalu mengerikan ya untuk anak-anak. Selain itu ada juga beberapa tempat yang sudah saya riset tidak jadi dimasukkan ke dalam cerita karena tidak cocok atau tidak cukup tempat di dalam buku 🙂

Non-Technical Distraction

Dengan bekal hasil riset yang banyak ini, saya pulang dengan semangat menggebu untuk mulai nulis, tapi ternyataaa…prosesnya sama sekali gak mulus. Ada banyak non-technical distractions yang saya alami, terutama rasa gak pede yang menjadi-jadi, yang membuat proses menulis jadi lamaaaa. Oiya, saat saya tersengat ide, saya sempat mendiskusikan ide ini dengan Mbak Dikha dari Penerbit Kiddo. Beliau langsung oke untuk menampung naskah saya saat selesai nanti.

Waktu penyelesaian molor satu bulan dari yang dijanjikan pada Penerbit. Salah satu penghambat dalam proses menulis adalah saya takut mengecewakan Penerbit yang sudah semangat mau menerbitkan naskah ini (padahal belum jadi apa-apa), saya tak henti-hentinya membandingkan naskah novel ini dengan ketiga novel saya yang sudah terbit. Apakah ceritanya lebih seru? Lebih baik? Lebih berbobot? Apalagi saya mendapat banyak komentar baik tentang novel-novel saya sebelumnya. Saya jadi ngeri sendiri, bagaimana jika karya yang keempat ini tak sebaik novel-novel saya terdahulu?

Plot Building

Setelah sekian lama galau, akhirnya saya bisa berkonsentrasi kembali membuat plot. For your information, saya membuat enam, catat ya, enam versi ending yang berbeda-beda dalam draft plot saya. Semua, seperti biasa ditulis dengan tulisan tangan. Akhirnya plot terpilih, gambar oretannya kurang lebih seperti ini:

Plot Kampung Hitam

Menciptakan karakter

Proses saya menciptakan karakter secara umum pernah saya ceritakan disini.

Di novel ini, si tokoh utama akhirnya saya beri nama Julia dan Arkan. Satu karakter yang perlu dapat catatan di sini adalah tokoh si Bude Tami, hehehe… Karakter ini terus terang terinspirasi dari karakter nyata Ibu Dosen Tami yang cantik dan banyak membantu dalam proses riset 🙂 🙂

Menulis dan Editing

Lega sekali setelah saya akhirnya bisa menyelesaikan novel keempat ini. Setelah saya kirim ke Penerbit, sempat satu minggu tak ada jawaban. Saya pikir naskahnya tidak lolos seleksi. Karena penasaran saya tanyakan juga ke Mbak Dikha, ternyataaaa hehehe…naskah itu sudah dilempar ke ilustrator, dengan kata lain sudah di-acc. Mbak Dikha lupa memberitahu saya karena sedang repot dengan proyek lain.

Seperti biasa proses editing selalu berdarah-darah, dengan banyak pemotongan adegan, pengguntingan kalimat, penyederhanaan alur, dan pengurangan keruwetan dengan menghilangkan scene-scene gak penting. Sebenarnya keruwetan ini adalah penjelmaan dari pola pikirku yang memang rada njelimet waktu membuat plotnya, hehehe…. Mas Indra Bayu pun sempat bolak-balik bikin revisi ilustrasi sesuai dengan keinginanku yang rewel ini (terutama ilustrasi gelang itu).

Done! Terbit!

Setelah editing dan ilustrasi, selesai. Done. Terbit. Semoga saja novel yang keempat ini juga dapat diterima dengan baik oleh pembaca. Saya sungguh berdebar, menunggu reaksi para pembaca 🙂 Semoga bisa menghibur dan menambah pengetahuan.
PS. Saat ini saya tengah menyusun plot untuk novel kelima. Settingnya…ehem…reruntuhan kerajaan kuno yang pernah jaya di abad-17. Penasaran? Baca dulu aja novel keempat, wokeeeh? Novel kelima, sabar saja menanti ya 🙂 🙂

 

Iklan