Perjalanan Naskah Popo the Porcupine

 

My name is Popo. Yes, I am a porcupine.

I look spiky with all the quills that are mine.

Popo the Porcupine bukan cerita anak-anak pertama yang saya tulis. Naskah ini juga bukan naskah picture book yang paling cepat saya tulis (rekor masih dipegang oleh serial Koko & Kiki yang bisa saya tulis dalam waktu 2 hari saja), malah sempat naskah ini saya diamkan berbulan-bulan karena kurangnya mood. Tapi naskah ini termasuk salah satu yang paling saya sayang, mungkin karena karakter dan ceritanya diciptakan bersama-sama dengan si sulung Nitya, the baby gokil.

Penciptaan karakter

Seperti halnya tokoh-tokoh di buku anak-anak lainnya yang sudah pernah saya tulis, karakter yang hidup dalam cerita berseri “Popo the Porcupine” adalah hasil brainstorming saya dengan Nitya. Seperti biasa setiap malam, kita berdua pasti akan memuas-muaskan diri berkhayal bersama sambil menceritakan dongeng-dongeng yang hanya ada dalam imaginasi dan… hasil dari berkhayal bersama itu adalah terciptalah si Popo dan teman-temannya: Pom si Tupai (Pom the Squirel), Daisy si Kelinci Merah Jambu yang selalu memakai pakaian berwarna merah jambu (Daisy the Pink Rabbit), Rin si Monyet (Rin the Monkey) dan Caca si Burung Pelatuk (Caca the Woodpecker). Selain itu saya juga sangat terinspirasi oleh tokoh-tokoh dalam film animasi Chicken Little.

Jalinan Cerita

Awalnya cerita si Popo saya karang-karang sebagai dongeng pengantar tidur untuk mengatasi sifat si Nitya yang suka ngamuk bin ngambek. Cerita awal ini tertuang dalam salah satu judul dalam serial Popo yaitu “Grumpy Popo At The Mall”. Ini cuplikannya :

I want to have it my way, I don’t want the grown ups tell me what to do.

I want to go by myself and do anything that I want to. 

Aku ingin berbuat semauku, aku tak mau diatur oleh orang dewasa.

Aku ingin pergi sendiri dan melakukan apa yang aku suka.

Lama-lama dari satu cerita ini berkembang menjadi 7 cerita yang masing-masing mengajarkan anak untuk mengenali dan menguasai emosi. Jadilah 7 cerita ini saya bundling dalam satu tema besar “Emotional Intelligence Series”.  Macam-macam emosi yang saya kembangkan dalam tiap cerita nanti akan saya turunkan dalam tulisan terpisah.

Gaya Penceritaan

Setiap kali mendongeng, saya selalu memposisikan diri sebagai si Popo yang tukang ngambek, penakut, kurang pede, penggerutu dan pencemburu. Jadi tentu saja gaya cerita yang saya pakai di bukunya adalah gaya bercerita orang pertama. Oiya karena saya dan Nitya juga senang sekali bermain kata-kata rima dalam bahasa Inggris (berlomba membuat rima adalah candu bagi kami berdua), maka buku ini pun seperti beberapa buku saya lainnya yang akan terbit dibuat berima baik yang versi Inggrisnya maupun versi Indonesianya.

Menuju Penerbitan

Jreng…naskah siap dan perjuangan yang sesungguhnya pun dimulai yaitu mencari jodoh penerbit. Naskah ini sempat ditolak oleh dua penerbit sebelum akhirnya diakuisi oleh salah satu penerbit buku anak mayor di negeri ini. Senangnya waktu kontrak penerbitan itu tiba di meja saya, senang pula waktu lihat sample ilustrasi pertama untuk buku ini. Semoga saja kisah-kisah dalam buku ini dapat memberi manfaat buat anak-anak dan para orang tua.

Tunggu tanggal terbitnya ya…

Silakan colek saya di

FB: Yovita Siswati

Twitter: arundhat1

Iklan