Inspirasi Novel Kota Topeng Angker : Aerli Rasinah

Jpeg

Melanjutkan edisi bersih-bersih rumah, saya kembali menemukan harta karun! Kalau dalam cerita tempo hari saya menemukan potongan brosur Museum Benteng Heritage, sumber inspirasi saya dalam menulis novel Misteri Kota Tua (lihat di sini), maka kali ini saya menemukan artikel di sebuah majalah tahun 2009 yang sebenarnya mau saya hand-over ke tukang loak. Artikel itu tentang Aerli Rasinah, cucu dari maestro tari topeng Indramayu: Mimi Rasinah. Beliaulah inspirasi saya sewaktu menulis novel Misteri Kota Topeng Angker. Sewaktu melakukan riset untuk novel itu saya juga beruntung bisa bertemu langsung dengan Aerli Rasinah. Kisah lengkap behind the scene novel itu sudah pernah saya tuliskan di sini. Di posting ini saya mau share sedikit cerita tentang Aerli Rasinah.

Misteri Kota Topeng Angker
Misteri Kota Topeng Angker

Bertemu Aerli Rasinah

Saya datang hari Jumat pagi, dua tahun lalu. Aerli Rasinah sedang tidak di rumah, sedang mengantar anaknya ke sekolah. Saya menunggu sebentar sementara salah satu anggota keluarga menjemput Mimi Aerli ke sekolah. Sambil menunggu saya dan teman saya, Cici Sierli ngobrol-ngobrol dengan seorang anak muda yang sedang magang di sanggar. Anak muda asal Bali itu jauh-jauh datang khusus untuk belajar tari topeng, sekaligus cara membuat topeng kayu untuk dipakai menari.

Aerli Rasinah 1

Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah

Oke tidak lama Mimi Aerli datang. Kesan pertama : pretty, humble, simple. Ulangi : pretty, humble, simple. Dan…rambutnya, alamak, panjang sekali hingga sekaki, asli pulak. Kami ngobrol-ngobrol santai di sanggar yang lengang, ditemani juga oleh Mas Ade, suami dari Mimi Aerli.

Aerli Rasinah 4

saya dan Mimi Aerli.

Mimi Aerli banyak bercerita tentang hidupnya sebagai penari topeng. Secara takdir, Mimi Aerli telah dipilih oleh Mimi Rasinah sebagai penerusnya. Ya, yang dipilih sebagai penerus oleh Mimi Rasinah bukan anak Mimi Rasinah, Ibu Aerli, tetapi justru Aerli. Pemilihan ini tidak sembarangan, dan ya takdir adalah takdir, Mimi Aerli pun harus menempuh hidup sebagai Penari Topeng.

Aerli Rasinah 2

Lukisan di Sanggar Tari Topeng yang menggambarkan Mimi Rasinah menunjuk Mimi Aerli sebagai penerusnya.

Yang belum kenal Mimi Rasinah, silakan klik link ini.  Ada foto bagus Mimi Rasinah dengan kostum menarinya di sini.

Dari kecil, Aerli sudah harus menempuh latihan keras. Mimi Aerli berkisah, setiap dini hari ia selalu dibangunkan Mimi Rasinah, ia disuruh tengkurap dan badannya diinjak-injak oleh Mimi Rasinah. Katanya itu supaya struktur tulangnya bagus dan postur tubuh saat menari bisa benar. Saat Mimi Rasinah diundang menari dari kampung ke kampung, Aerli ikut menari juga. Saat Mimi Rasinah pada akhirnya ditemukan oleh dua orang dosen dari sebuah Sekolah Tinggi Seni di Bandung dan Tari Topeng go international, Mimi Aerli pun ikut serta mendampinngi Mimi Rasinah hingga tarian terakhir.

Masa Depan Tari Topeng

Saat ini Mimi Aerli dan Mas Ade sudah melakukan banyak modifikasi terhadap tarian ini supaya lebih mudah dipelajari oleh anak-anak dan lebih menarik bagi orang-orang muda. Misalnya dengan mengurangi durasi. Kendala tentu banyak. Misalnya jam latihan. Karena sanggar terletak di permukiman padat, latihan hanya bisa dilakukan di hari Minggu. Namun konon Mimi Aerli sudah memiliki lahan di tengah sawah yang akan dikembangkan menjadi sanggar. Karena letaknya di tengah tanaman padi, tentu tidak akan ada issue ‘polusi suara’ sehingga latihan bisa dilakukan lebih sering.

Sanggar Tari juga membuat beberapa merchandise, suvenir, yang dijual untuk pengunjung. Ini termasuk salah satu cara untuk mensupport pembiayaan sanggar.

1050

Well, they try hard. To survive.

Bukan hanya Tari Topeng Indramayu yang memesona saya sehingga saya menuliskan novel saya Misteri Kota Topeng, tetapi juga semangat para pelaku seni ini to continue in existence, to remain alive.

 

 

 

 

Iklan