Resensi Novel “Misteri Harta Berdarah” oleh DetectivesId

Beberapa waktu lalu, novel saya, Misteri Harta Berdarah, mendapat kehormatan diresensi oleh DetectivesId di laman instagramnya.

Tentang DetectivesId

DetectivesId adalah komunitas pencinta karya sastra bergenre misteri/thriller. Anggota-anggotanya rajin membuat ulasan tentang novel-novel detektif dalam dan luar negeri. Mengutip dari blognya, fokus komunitas ini adalah untuk belajar dan sharing tentang genre fiksi detektif, tokoh karakter, serta perkembangannya di dunia literatur. Untuk penggemar karya fiksi misteri, jangan lupa follow instagram @Detectives_ID

Isi Resensi

Resensi untuk novel Misteri Harta Berdarah, dibuat dalam 6 postingan instagram dan isinya agak panjang. Supaya tidak hilang ditelan waktu, mengingat postingan instagram cepat sekali tertimbun, saya coba kutip selengkapnya di sini. Postingan asli bisa dilihat di instagram DetectivesId

————————–

Sebuah cerita petualangan memecahkan misteri dengan latar bersejarah di lingkup wilayah provinsi Banten. Sang penulis sendiri dikenal sebagai penulis cerita anak yang pernah mendapatkan penghargaan khusus di tingkat Asia untuk novel pertamanya (catatan : bukan tingkat Asia tetapi tingkat dunia)

Bercerita tentang tiga anak yang bertemu dengan seorang veteran pejuang Indonesia sekaligus romusha di era penjajahan Jepang. Pertemuan mereka di stasiun Rangkas Bitung bermula ketika sang kakek diincar oleh seorang penjahat berbaju Hawaii. Ketiga anak yang bernama Bagas, Galuh, dan Damar kemudian menolongnya

Tak disangka, pria tua yang bernama Mbah Midi tersebut ternyata membawa sebuah rahasia tentang harta yang diincar para penjahat. Petunjuk mereka cuma saputangan dan sebuah pantun panjang yang menyimpan teka-teki menuju tempat harta itu berada.

Sebuah premis sederhana yang akan membuat para pembaca anak antusias untuk menikmai petualangan, berpikir dan menganalisis, serta belajar sejarah.

Secara penampilan, novel ini sudah mewakili novel anak. Ilustrasi para tokoh dan adegan dibuat dengan warna yang benderang. Sedikit berbeda dengan tiga novel sebelumnya. .

Sewajarnya novel anak, bagian dalamnya didesain untuk pembaca anak-anak. Font yang ditampilkan ukurannya cukup besar. Selain itu, ada beberapa gambar ilustrasi di beberapa bagian halaman. Hal itu membantu imajinasi anak-anak akan alur cerita dan penokohan.

Hal menarik lainnya, di novel ini ada beberapa tambahan cerita sejarah. Seperti footnote, namun dijelaskan dalam ilustrasi gambar dan catatan ringkas. Misalnya sejarah ringkas stasiun Rangkas Bitung, berikut peta wilayah, sejarah romusha, Douwes Dekker beserta museum atau perpustakaannya. Hal ini akan menambah pengetahuan anak akan cerita sejarah.

Secara alur, cerita ini dibuat dengan gaya penuturan yang cepat. Bagian pertama langsung inti cerita. Bab pertama sudah langsung diperkenalkan para tokoh yang terlibat, sekaligus penjahatnya.

Tidak perlu ada detail jelimet di awal, dan langsung ke cerita. Exposition dibuat langsung bertemu rising action dan konflik pertama, lantaran tokoh penjahat sudah muncul di awal cerita. .

Perjalanan para tokoh ke beberapa tempat di kawasan Banten demi memecahkan petunjuk di pantun serta menemani Mbah Midi menemukan rumah sahabat lamanya.

Ada tiga tokoh yang diperkenalkan dalam cerita ini. Yang pertama adalah Bagas, seorang bocah yang selalu membawa buku gambar ke mana pun dia pergi. Bagas tipikal karakter orang yang cemas bila ada perubahan rencana.

Sementara Galuh, sepupu Bagas digambarkan sebagai anak perempuan dengan rambut keriting berombak yang gemar menolong dan menyukai petualangan. Idenya untuk menolong Mbah Midi yang kemudian menyeret mereka ke sebuah petualangan mencari harta rahasia.

Uniknya, di antara dua anak kecil itu terdapat satu karakter anak kuliahan. Damar, kakak dari Galuh menjadi sosok yang melengkapi kelompok detektif cilik tersebut. Sepertinya, Damar diciptakan sebagai karakter yang membuat logika cerita berjalan. Agak aneh kalau ada dua anak kecil keliling povinsi Banten berhari-hari tanpa ada orang dewasa yang menemani. 

Di beberapa buku sebelumnya, penulis sudah banyak menceritakan berbagai peristiwa bersejarah. Kali ini, sang penulis memilih kisah tentang romusa yang hidup pada jaman penjajahan Jepang. Semuanya digambarkan melalui tulisan maupun gambar

Begitu pula dengan tokoh penulis buku Max Havelaar yang juga diungkap dalam buku ini.

Dengan berbagai macam peristiwa bersejarah yang kemudian disambung dengan teka-teki melacak lokasi rahasia yang tersembunyi mengingatkan berbagai cerita klasik petualangan, entah itu cerita detektif atau cerita petualangan mencari harta karun yang berhubungan dengan sejarah.

Bedanya, novel ini sejarahnya di sini ulas lebih dalam, karena seolah-olah menggabungkan novel fiksi dengan sisipan buku pelajaran bersejarah. Untunglah, porsinya tidak terlalu terlihat seperti buku sejarah. Apalagi penulis hanya membuat point-point penting mengenai sejarahnya, tanpa uraian panjang yang jelimet

Salah satu yang menjadi kunci pertanyaan dari novel ini adalah apakah novelnya berkaitan dengan buku-buku sebelumnya atau tidak (catatan : tidak). Mengingat setiap novel Yovita Siswati terlihat serupa dengan cover yang sama (meski yang ini beda sendiri dengan tiga novel lainnya).

Selain itu, bagian ending seperti mengindikasikan bahwa novel ini masih akan memiliki sambungan. Atau memang novel ini sengaja dibiarkan begitu saja. (catatan : novel ini akan dibiarkan begitu saja)

————-

Baca juga :

Iklan
Ditandai sebagai: