Misteri Kota Lautan Api – Behind the Scene

Yak, novel baru saya hadir lagi. Yes, masih dalam serial yang sama, Seri Misteri Favorit dari Penerbit Kiddo, imprint penerbit buku anak dari Kepustakaan Populer Gramedia. Buku ini adalah judul keenam yang saya tulis. Kali ini setingnya adalah Bandung. Ya. Bandung. Sebelumnya, even in my wildest imagination, gak pernah kepikiran untuk menjadikan kota ini sebagai seting, karena terlalu mainstream. Apa iya masih ada hal unik menarik yang tersembunyi dari kota yang begitu populer dan dikenal semua orang? Eh, ternyata ada. Dan takdir, membawa saya menuliskan tentang kota ini. Jadi, begini cerita lengkapnya…

Menemukan ide

Suatu hari, saya datang ke pameran buku. Seperti biasa, kalau lagi pameran, saya selalu mencari buku-buku sejarah berharga diskon. Nah di stand Komunitas bambu, saya menemukan buku-buku keren ini: 

Semua tentang Bandung, tentang hal-hal luar biasa yang terjadi dalam masa lalu kota itu. Isi buku, terutama yang paling depan itu, sangat memukau. Dan…voila! Saya mendadak tahu apa yang harus saya tulis dalam novel saya selanjutnya. Butuh waktu berbulan-bulan bagi saya untuk mencerna dan menghidupkan kembali fakta-fakta masa lalu kota itu yang tertulis dalam buku ini di dalam imaginasi saya. Setelah gambaran plot mulai ada di otak saya, barulah saya melakukan tahap kedua : On-Site RESEARCH

Ke Bandung!

Rencana ini juga sempat tertunda lama. Pertama karena tidak ada satupun anggota geng ngebolang saya, yang bisa ikut nemenin. Kedua, saya kesulitan meng-arrange transportasi. Karena saya akan pergi sendiri, saya gak mau backpacker. Suasana perjalanan harus nyaman. Akhirnya setelah menimbang biaya, faktor u dan kesediaan waktu, akhirnya saya putuskan ke sana naik kereta api, lalu di sana menyewa mobil untuk muter-muter.

Daftar tempat yang mau saya kunjungi sudah saya buat, tetapi semuanya ternyata harus diimprovisasi. Salah satu tempat berkesan yang saya kunjungi adalah Museum Siliwangi. Berkesan karena, ehem…SERAM! Saya datang kepagian. Belum ada pengunjung. Saya pikir, Pak Tentara yang sedang berjaga akan ikut nemenin keliling-keliling museum, ternyata setelah menunjukkan tempatnya, beliau menyilakan saya berkeliling sendiri. Bukan itu saja, setelah pak Tentara pergi, BLAM! Pintu museum membanting dengan sendirinya (akal sehat saya bilang, ini pasti karena angin, dan hanya angin semata).  Saya pun ditinggalkan dalam keremangan ruangan yang nyaris gelap. Ditambah lagi di dalam ruangan museum, dipenuhi display memorabilia peperangan dari jaman pra kemerdekaan hingga jaman revolusi! Foto-foto kekejaman perang (aih!), deretan senjata perang dunia, samurai, kelewang yang konon dulu pernah dipakai memenggal kepala Gurkha, dan pakaian-pakaian para pahlawan tempo dulu (termasuk jubah-jubah para pemuka agama) yang dipasang sedemikian rupa sehingga seakan sedang berdiri menantang. Hampir saja saya kabur dari tekapeh, untung saat itu ada pengunjung lain yang datang…

Setelah itu ada beberapa tempat lain yang saya kunjungi. Ternyata walaupun sudah sewa mobil, tetap saja saya harus banyak banget jalan kaki, untuk mencari lokasi-lokasi sesuai fakta dari buku. Pak Sopir Blue Bird yang saya sewa awalnya dengan semangat nemenin saya jalan kaki, tapi lama-lama ia pun tepar dan memilih menunggu di mobil. Jadilah saya blusak blusuk sendirian. Beruntung saya masih ingat semua teori cara mendapatkan data saat in-situ research dari Bude Tami, tokoh legendaris di novel saya : Misteri Kampung Hitam. Saya sempat juga ketemu beberapa solo traveler dan sempat gantian minta tolong saling foto. Saat makan siang, saya mengganjar diri sendiri dengan makanan luar biasa dari masa lalu di sebuah restoran yang menyediakan hidangan ala peranakan.

Oiya, saya pikir, kunjungan ke Museum Siliwangi sudah cukup menantang, ternyata di penghujung hari saya mendapati diri saya menatapi tengkorak-tengkorak berserakan di salah satu seting novel saya. Tengkorak beneran. Di pusat kota Bandung. Di mana? Baca aja bukunya.

Okeh, jalan-jalan selesai, saatnya nulis.

Proses penulisan 

Proses penulisan sama sekali enggak lancar, karena kesibukan dan mood saya yang naik turun. Bahkan di pertengahan penulisan novel, sempat saya tinggal untuk research di kota lain. Janji saya yang seharusnya bisa menyelesaikan naskah di bulan April, molor sampai Juni.  Langkah awal yang saya lakukan tentu melakukan corat-coret plot, dari masa lalu ditarik ke masa kini. Ini dia scrap notesnya :

Di samping itu, saya melakukan mempelajari beberapa sandi dan code sederhana untuk bisa dimasukkan dalam cerita. Dan, yang gak kalah memusingkan adalah studi peta. Lagi-lagi saya rely heavily on Bude Tami untuk memberikan link-link peta dari jaman Hindia Belanda. Ini dia scrap map saya :

Dan naskah pun selesai. Lanjut kirim ke Mbak Dikha, dari Penerbit Kiddo.

Editing

Bulan Juni naskah mengantri editing.  Novel dalam seri Misteri Favorit mulai digarap di bulan Juli. Seperti biasa, cover dikerjakan oleh Mas Indra Bayu. Di penghujung Agustus…Jreng! Novel ini mulai menemukan bentuknya. Semoga saja novel ini bisa diterima dengan baik seperti para pendahulunya 🙂

Happy reading!

PS

Saat ini saya sedang membuat draft untuk seting selanjutnya di kota…. *rahasia*

Iklan