Alasan Naskah Saya Ditolak Penerbit

IMG_20150312_062712~2

Ini beberapa alasan yang pernah dikemukakan penerbit sewaktu menolak naskah saya. Ada alasan ringan, dan ada pula yang kelas berat. Enjoy the list #eh

1. Tema biasa sekali alias temanya kurang nendang

Dengan kata lain: naskah you pasaran chooy! Kalau dapat alasan penolakan seperti ini, solusinya gampang: carilah jalan supaya naskah jadi unik. Caranya? Ya ke toko buku, riset buku-buku yang lagi beredar. Cari tema yang serupa dengan tema naskahmu. Laluuuu… cari apa yang “hilang” dari buku-buku itu, yang mungkin bisa kamu tambahkan di dalam naskah kamu sebagai faktor pembeda. Kalau semua buku setema yang sedang beredar sudah cukup bervariasi, alias you dah gak bisa lagi nemuin deviasi, turunan, dan variasi lain dari buku yang sudah ada, ya sudah, simpan saja naskahnya, tunggu beberapa tahun baru tawarkan lagi naskah itu ke penerbit lain.

2. Kami sudah memiliki naskah dengan tema serupa atau kami baru saja menerbitkan buku dengan tema serupa.

Bahasa kerennya: You kalah cepet my dear…  Arti dari penolakan seperti ini adalah: sebenarnya naskah kamu bagus, hanya saja kamu keduluan penulis lain. Solusinya: tawarkan ke penerbit lain. Kalau naskahmu lolos seleksi di penerbit lain, lanjutkan dengan doa yang keceng pagi, siang, malem supaya naskahmu terbit lebih dulu.

3. Kami tidak menerima naskah dari penulis lokal

Jujur, in my opinion, ini adalah alasan penolakan paling norak di seluruh dunia. Halllowww, penulis lokal sekarang keren-keren lo. Tapi gimanapun juga, keputusan penerbit harus ditelan pasrah. Kebijakan penerbit memang beda-beda toh?

4. Naskahnya bagus tapiiiii…. ehem..marketnya kurang 

Memang, karya yang baik belum tentu laku dijual. Atau bisa juga pasar yang ada terlalu sempit untuk tema naskah yang kamu tawarkan (misalnya buku rohani). Atau bisa juga pasar sudah jenuh dibanjiri buku tema sejenis.  Kalau dapat penolakan keik gini terus ngapain? Hmmm…most likely kalau marketnya memang kurang, di penerbit lain pun akan menghadapi penolakan dengan alasan serupa. Kalau saya biasanya akan saya simpan dulu naskah itu. Kalau teman-teman? *eh malah balik nanya*

5. Bahasa terlalu baku

Ternyata, ternyata ya, ternyata, bahasa-bahasa gaul dalam batas tertentu diperbolehkan di dalam naskah cerpen atau novel anak. Jadi boleh lho ngelenong pake bahasa slank di naskah, asal jangan ngelewatan jadi sarkastik atau kasar kayak gak kenal sekolahan. Kalau dapat penolakan seperti ini, gampang! Revisi saja. Trus tawarkan lagi ke penerbit lain (atau penerbit sama juga gak dosa kog….)

7. Tidak ada contoh ilustrasi

Hehehe…oke baiklah. Ilustrator…mana ilustrator? Kalau saya ditolak dengan alasan ini, pertama: saya akan coba cari ilustrator yang mau kasih sampel tanpa dibayar dulu. Kalau gak dapat ilustrator yang rela berjuang bersama menembus penerbit, ya sudah, cari penerbit lain yang mau nerima naskah tanpa ilustrasi. Emang ada? Ada. Banyak.

8. Kami belum bisa menyokong tema seperti yang anda ajukan.

Weits? Begitukah? Apakah naskah saya terlalu visionary? Terlalu out of the box? Atau terlalu nyeleneh? Gak usah dipikirin, langsung cari penerbit lain, wokeh.

Ada yang mau nambahin alasan lain?

*tulisan ini dibuat di malam minggu, saat para bocah sudah tidur dan saat si emak baru saja ngebut nyelesaikan lima bab novel sekaligus*

Iklan