Misteri Kerajaan Kuno – Behind the Scene

 

Menulis cerita misteri sama seperti membaca cerita misteri. Sama-sama bikin kecanduan. Setelah selesai menulis novel misteriku yang keempat Misteri Kampung Hitam, otak saya kembali giat mencari-cari daerah mana lagi yang kira-kira bisa diexplor untuk bisa dijadikan cerita misteri. Hinga akhirnyaaaa lahirlah kisah dari daerah Banten Lama ini. Begini ceritanya :

Penemuan Ide

Berbeda dari keempat buku sebelumnya, dimana ide cerita muncul tanpa sengaja, maka untuk novel kelima ini, saya memang sengaja mencari ide. Daaan ide datang saat saya tak sengaja menemukan sebuah buku yang berisi kumpulan surat-surat Sultan Banten sewaktu saya sedang iseng browsing google book di internet. Saya langsung kontak penerbitnya. Ternyata buku itu masih tersedia. Langsung transaksi beli dan kiriman buku datang beberapa hari kemudian. Buku itu memang benar-benar manjur membangkitkan semua imaginasi (yang kadang tak waras) di kepala saya. Untuk menjaga imaginasi agar tak terlalu liar maka, seperti biasa, mulailah proses kedua. Apalagi kalau bukan RISET (with capital letters – karena inilah proses terpenting dalam setiap buku yang saya tulis).

(picnic) RISET again!

Selain buku di atas, saya juga membaca beberapa buku lain, di antaranya buku pelajaran sekolah tentang pahlawan nasional. Setelah eneg membaca buku (iya, saya suka buku sejarah tapi kalau baca setiap hari pasti eneg juga), saya pikir saya perlu picnic riset. Langkah pertama: mencari teman riset, karena saya ogah mati gaya saat sedang berkeliaran di bumi kerajaan kuno di ujung barat Pulau Jawa. Teman yang biasa menemani saya survey, Trio macan KW super dari Indramayu dan Bekasi, Bibi Nana dan Cici Sierli dengan sangat disayangkan gak bisa ikut. Bude Tami yang berjasa besar dalam riset buku keempat juga gak mungkin datang jauh-jauh dari Jawa Tengah. So jadilah saya mencari mangsa lainnya. Dan korban yang berhasil saya sekap seharian untuk nemenin saya blusukan adalah adik saya sendiri hehehe, ibu guru Anastasia S. Walaupun disekap tapi dia hepi kog karena udah dibeliin kerupuk kulit sebungkus gede.

Langkah kedua : nyari lokasi. Ini tantangan banget. Karena pak sopir mobil sewaan kami ternyata gak tau jalan! Perfect. Gimana mau melacak jejak sejarah la wong mau belok kanan or kiri aja bingung. Oke, saya punya ide brilliant. Apa? Pakai google map dan navigation app di HP doooong! Tapi damn! Sinyal operator kesayanganku itu (yang pulsanya masih gratis itu) naik turun gak jelas. Navigation canggih itu sukses bikin kami jadi tambah nyasar. Akhirnya, kami keluarkan senjata pamungkas yaitu mulut. Yak tanya sama orang di setiap pengkolan yang kami lalui. Di salah satu pengkolan, ada tukang rokok yang memberi suggestion ampuh: “Ibu ikutin aja bis wisaja ziarah, ga mungkin nyasar, mereka pasti ke kota lama Banten.” Canggih. Thanks tukang rokok. God bless you and may God have mercy on you karena udah jualan rokok yang merusak kesehatan.

Oke singkat cerita, setelah saya harus tersesat, terseret, terengah, bersama-sama rombongan peziarah dalam labirin lapak-lapak tanpa ujung di destinasi paling favorit di Banten Lama, tibalah juga saya di lokasi yang saya inginkan sebagai setting. Ini nih cuplikan fotonya :

Kolase Foto_k81gDT

Apa sih pentingnya riset lapangan? Toh semua keterangan sudah ada di dalam buku yang saya baca?

Well, seperti yang sudah pernah saya share dalam acara Talkshow Sejarah di Pulau Kiddo, selama mengunjungi lokasi, imaginasi tentang kehidupan di jaman dulu bisa semakin hidup, ide bisa mengalir semakin deras, dan deskripsi seting bisa semakin hidup. Setelah sukses membuat kulit saya lebih keling 80% akibat berpanas-panasan selama berjam-jam, akhirnya saya pulang dengan membawa segudang bahan cerita.

Membuat Plot

Membuat plot hingga tiga perempat cerita adalah hal mudah. Yang sulit adalah penentuan ending. Bila tiga perempat cerita hanya membutuhkan waktu seminggu untuk menyusunan plotnya, maka membuat ending bisa berbulan-bulan. Seperti biasa plot saya tulis tangan. Caranya : tulis maju semua peristiwa dari masa lalu ke masa kini, lalu dibolak-balik, diacak-acak, tambahkan petunjuk di sana-sini, dan tentu saja harus ada red herringnya yang bertugas menyesatkan pembaca. Coret-coretan plot tidak saya share ya. Bentuknya sama saja kog seperti di buku-buku sebelumnya. Oiya untuk buku ini saya membuat tujuh versi ending yang berbeda dengan penjahat akhir yang berbeda-beda dan dengan epilog berbeda-beda. Ending seperti apa yang terpilih untuk masuk ke dalam buku? Weits, baca sendiri bukunya oke.

Satu lagi. Dalam buku yang satu ini, saya juga melakukan studi peta yang lebih mendalam dibanding di buku-buku lain. Mungkin karena salah satu petunjuk dalam buku saya berhubungan dengan gambar udara dari…. (eits spoiler…spoiler… baca bukunya, baca bukunya…)

Menciptakan karakter

Karakter utama dalam buku saya selalu ada dua, dan selalu punya opposite behaviour. Ditambah dengan karakter-karakter lain yang punya keunikan sendiri-sendiri. Saya sadari bahwa kekuatan novel saya bukanlah karakter namun plot. Tetapi saya tetap berusaha untuk menampilkan karakter unik baik lucu maupun seram, baik dodol maupun galak, baik cengengesan maupun gahar yang bisa tetap dikenang di benak pembaca bahkan setelah buku selesai dibaca. Silakan baca buku saya yang satu ini dan tolong beritahu saya apakah usaha saya ini berhasil atau tidak.

Menuju Penerbitan

Selama berminggu-minggu, Mbak Dikha, editor cantik dari Kiddo gak  bosan-bosan mengingatkan saya untuk cepat menyelesaikan naskah novel ini, sementara saya juga gak ilang-ilang galaunya dalam hal menentukan ending hehehe…Untung saja akhirnya kegalauan saya berakhir dan ending bisa dipilih. Setelah dicakepin dikit draftnya (baca dibenerin ejaannya, dll), naskah berhasil dikirim juga. Besoknya acc. Lalu duduk manis menunggu draft dalam bentuk buku untuk dkomentari. Revisi hanya sedikit. Begitu pula ilustrasinya. Sudah pas dan ciamik! Hanya ada feedback minor saja. Bravo untuk Mas Indra Bayu, ilustrator gambar-gambar keceh Serial Misteri Favorit.

Okeh, sebagai penutup, selamat menikmati buku ini. Dan saya kasih bocoran ya. Ada satu kota lagi yang sedang menari-nari dalam imaginasi saya sekarang. Semoga saja bisa jadi buku Misteri Favorit selanjutnya.

PS. Thanks juga untuk spot nulis favoritku, Bengawan Solo Cafe @ Teras Kota BSD. Tempat di mana saya menuliskan kata pertama dalam outline dan tempat dimana saya mengetikkan kata Tamat dalam naskah novel ini. Thanks untuk kesediaannya memutarkan musik-musik dari CD yang saya bawa dari rumah, mulai dari Benyamin S sampai musiknya Amy Winehouse. Thanks juga sudah mengijinkan saya duduk dalam posisi yang paling absurd sekalipun dari angkat kaki satu sampai bersila di sofa merah ituh :). Doain royaltiku cukup untuk bisa nongkrong di situ selaluuuh….

Iklan