Pengalaman Perdana Sebagai Editor

 

Ceritanya…beberapa bulan yang lalu, secara tak sengaja saya ditawari untuk mengedit sebuah buku.

Bukan. Bukan buku fiksi tapi mengedit buku non fiksi. Tepatnya buku “Full Test Ujian Saringan Masuk STAN” yang ditulis oleh tim yang terdiri dari para penulis hebat. Keder? Iya. Tapi karena saya suka tantangan, dan saya pikir masih dalam batas kemampuan saya, okelah, proyek ini saya terima.

Deadline ketat. Jadilah pekerjaan editing yang dilakukan di atas hardcopynya ini saya kerjakan di mana saja. Sambil duduk di kereta dengan efek samping jadi kelihatan (sok) keren bak profesor mau pergi ngajar, sambil nemenin anak bobok (anak mangap seraya numpahin iler dimana-mana sementara emak ubek-ubek kertas sembari micing-micingin mata karena lampu udah dimatiin sebagian), di mobil, pokoknya di mana saja. Ada insiden aneh selama proses editing, yaitu pulpen merah saya yang selalu hilang entah kemana, sehingga saya harus terus-menerus beli pulpen baru maupun nilep pulpen orang setiap kali mau lanjut. Alhasil, coretan saya warnanya gak ada yang sama, ketebalan garisnya pun bervariasi, belum lagi ada yang warna tintanya tebal, ada yang mau habis. Ihiks.

Untunglah, pihak penerbit sreg dengah hasil pekerjaan saya. *lega*

Satu benchmark lagi terlewati. Ternyata saya bisa jadi editor *ehem* Portfolio saya juga jadi tambah panjang.

Terimakasih Penerbit Gradien, yang sudah memberikan kesempatan.

Iklan