Rahasia Kota Tua – Behind The Scene

Misteri Kota Tua

Novel Rahasia Kota Tua adalah novel pertama saya. Sebelumnya saya sudah menulis beberapa buku cerita bergambar untuk anak-anak dan novel komedi, tapi belum pernah novel serius untuk anak-anak dan dengan tema detektif pula.  Pada awalnya saya ragu apakah saya punya cukup bakat, waktu dan tekad untuk membuat tulisan puluhan halaman dengan ribuan karakter huruf.  Kalau sekedar menulis saja mungkin bisa, tapi membuat tulisan yang gak bikin bosan pembacanya, itu soal lain lagi.

Di tengah keraguan saya, tiba-tiba muncul kesempatan emas untuk belajar menulis novel anak dalam kelas online bimbingan Teh Ary Nilandari. Message tentang kelas ini sampai di inbox saya malam hari dan saya baca jam 4 pagi (saya lupa tanggalnya).  Entah dari mana datangnya tiba-tiba saja keberanian muncul dan saya langsung mendaftar dini hari itu juga. Ternyata itu adalah keputusan tepat karena selang beberapa jam kemudian, kelas sudah penuh dan pendaftaran ditutup. Hem, lucky me 🙂

Pemilihan Tema

Oke, tugas pertama saya dari tugas-tugas panjang yang menyusul kemudian adalah menentukan tema. Saya belum punya bayangan sama sekali tentang buku macam apa yang akan saya buat. Setelah merenung (baca: bengong di kantor kayak celengan bagong) akhirnya saya putuskan untuk mematangkan dua tema, satu tema detektif bergaya (sok) thriller bin misteri dan satu lagi tema yang menyentuh mengharukan. Ujung-ujungnya yang terpilih adalah tema detektif, karena alasan sederhana : saya merasa takkan bisa menulis yang haru-haru 🙂

Pertanyaan berikutnya timbul, cerita detektif yang seperti apa? Model cerita Detektif Conan, gaya petualangan Noni seperti karangannya Bung Smas atau bagaimana? Selama bertahun-tahun saya sangat mencintai bacaan bertema sejarah, bahkan buku pelajaran sejarah di SMP yang setebal kardus indomie itu adalah cinta pertama saya. Jadi bingo! *finger snapping* saya menemukan tema saya : Detektif – Misteri- Histori

Penokohan

Karena saya membidik pasar Middle Grade, alias anak usia sampai dengan 12 tahun, maka tokoh utama dalam novel saya ini haruslah anak-anak berumur 10-12 tahun. Laki-laki atau perempuan? Karena tak bisa memutuskan saya mengambil dua-duanya: dua tokoh utama, satu laki-laki dan satu perempuan.

Seperti apa karakter para tokoh utama ini? Well, ini tidak sulit. Saya tinggal melihat kembali ke masa lalu, dan comot karakter-karakter menarik dari teman-teman masa kecil saya *menyeringai jahil*. Gabung-gabungkan sifat-sifat yang menarik dan tidak menarik, tambahkan sedikit imaginasi dan voila! Lahirlah Beno dan Sari, nama dua tokoh utama dalam novel saya. Sebenarnya saya merencanakan membuat karakter satu pasukan anak yang selalu mau tahu dan sedikit bengal, tapi tidak jadi karena menurut Teh Ary, untuk novel anak, tokoh utama cukup satu atau dua orang saja supaya karakter tokoh lebih tergali. Ok, got the point.

Selain merancang tokoh-tokoh baik, saya juga harus mendesain tokoh-tokoh jahatnya. Untuk hal ini saya mengalami sedikit kesulitan karena orang yang saya kenal baik-baik semua *ehem* Jadilah saya berpaling pada tokoh-tokoh jahat imaginer dalam filem-filem kartun yang pernah saya tonton sebagai bahan referensi,  dan jadilah si tokoh jahat.  Belakangan saya tambahkan juga tokoh-tokoh lucu, yang kehadirannya hanya sebentar, tetapi penting, dan bisa memberi intermezo menyenangkan di tengah jalinan cerita yang menegangkan.

Setting

Karena saya pemula, pemain baru dalam ranah novel anak, saya ingin bermain aman. Sebenarnya saya tergoda untuk membuat seting di Papua atau di Pulau Weh, tapi urung karena daerah-daerah itu tak familiar. Setting apa yang paling aman untuk saya? Tentu saja setting tempat saya menghabiskan sebagian besar waktu hidup saya, setting tempat saya dibesarkan: sebuah kampung di pinggiran Jakarta, Kampung Sewan.

Mengenai Latar Sejarah

Duluuu waktu saya masih kecil, saya benci tinggal di Kampung Sewan, karena kampung itu sesak, tanpa karakter, dan jelek bukan main. Terlebih lagi, saya sering disangka orang Cina Benteng karena tinggal di kampung itu. Well, well, kampung itu ternyata (hal ini saya sadari kemudian) adalah tempat tinggal komunitas Tionghoa Benteng. Komunitas Tionghoa yang lain dari pada yang lain. Apa saja keunikannya? Eits baca bukunya donk *wink*

Baiklah, jadi saya akan menulis novel untuk anak-anak SD hingga usia 12 tahun,dengan tema detektif, dengan tokoh bernama Beno dan Sari, dengan setting di Kampung Sewan yang unik, daan…dengan bumbu sejarah. Wait! Sejarah? Sejarah macam apa yang akan saya tampilkan dalam buku ini. Yang pasti harus sejarah komunitas yang berdiam di Kampung Sewan (karena kalau gak apa gunanya dipilih setting Kampung Sewan, iya gak?)

Jadilah saya bertekun dengan jurnal-jurnal online, referensi-refensi untuk mencari bagian sejarah yang paling unik dari komunitas Tionghoa Benteng Tangerang yang bisa dijadikan latar cerita. Nasib baik, tak sengaja saya membaca satu petikan paragraf (yes, hanya satu paragraf saja) dari buku Petite Historie Jilid 1 karangan Rosihan Anwar. Dan dari satu paragraf itu, saya tiba-tiba mendapat ide besar cerita dan semua jalinan cerita. Plot dan konflik mendadak tergambar jelas di benak saya. In short, rada-rada mirip dengan kesambet lah, istilah kerennya ‘in trance’…:)

Plot / Alur

Langkah selanjutnya adalah membuat alur. Saya memakai alur maju. Saya menggunakan tulisan tangan untuk merangkai keseluruhan cerita. Lengkap dengan notes-notes yang berkeliaran di tepian kertas dan bagan-bagan yang hanya saya sendiri yang bisa membacanya hehehehe… Saya harus menuangkan plot itu dengan cepat, sebelum semua menguap dari kepala saya (baca: sebelum proses kesambetnya ilang). Butuh 2 dini hari untuk menyelesaikan alur, saya ajukan pada coach saya yang cantik dan beliau langsung setuju untuk mengeksekusi ide itu *loncat girang*

Kota Tua Edit

Proses Penulisan

Tanpa saya duga, ternyata proses penulisan cukup lancar dan lumayan cepat. Mungkin karena rancangan plot sudah ada. Mungkin juga karena kompor-komporan dengan peserta kelas menulis yang lain, terutama dengan si ketua kelas Mas Sinyo Egie. Mungkin juga karena kesambetnya gak ilang-ilang.  Who knows?

Sepanjang proses Teh Ary memberi masukan-masukan berharga, menutup lubang di sana-sini, mengajarkan eyd yang baik dan benar, membenahi cara pemenggalan kalimat dan cara membuat dialog, dan yang pasti terus memberi semangat, bukan hanya untuk saya tapi untuk teman sekelas lain.

Menuju Penerbitan

Saat penulisan baru saja selesai, saya mendapat kabar dari Teh Ary bahwa penerbit Kiddo sedang mencari naskah novel anak bersetting lokal (eh kog kebetulan banget ya?). Beliau menyarankan saya mengirim ke Kiddo. Dengan semangat saya turuti nasehatnya. Satu bulan berlalu tak ada kabar dari Kiddo. Waktu saya follow up ternyata naskah yang saya kirim lewat email itu nyangkut entah dimana. Jadilah naskah saya kirim ulang. Jreng jreng! Dalam waktu yang tak terlalu lama, naskah itu di-acc. Penerbit Kiddo akan memasukkannya sebagai salah satu buku dalam serial Misteri Detektif Favorit.

Setelah itu mulailah perjuangan berdarah-darah untuk menyunting naskah ini agar sesuai dengan format yang sudah ditentukan penerbit. Dari 100 halaman naskah harus di cut hingga tinggal 70 halaman lalu harus diselipkan fakta-fakta unik tentang setting yang di Kampung Sewan itu. Kontras dari proses penulisan yang super cepat, maka proses penyuntingan ini berjalan lamaaaa karena saya sering angot-angotan. Untung editorku yang baik hati, Mbak Dikha, dengan sabar membimbing saya yang lemot dan rajin banget melempar reminder.

Pada saat melihat buku ini di toko buku, ada tiga hal yang rasanya tidak bisa saya percayai:

  1. Bahwa akhirnya saya bisa juga menulis novel anak serius.
  2. Bahwa akhirnya ada novel tentang Kampung Sewan.
  3. Bahwa ternyata menulis novel itu gampang J *somboooong…!*

Di buku, saya kisahkan si tokoh utama Beno, yang tadinya tidak suka tinggal di Kampung Sewan akhirnya menemukan persahabatan di kampung itu dan menjadi suka tinggal di sana karena berbagai keunikannya. Sama seperti saya. Setelah dewasa inilah baru saya menyadari  dan semakin menyukai berbagai ke-tidakbiasaan kampung itu. Jadi tidak hanya si Beno yang karakternya berkembang sepanjang cerita. Saya juga.

***

PS. Eits, stop bentar , cerita belum selesai. Karena seri pertama sukses Penerbit Kiddo akan membuat seri kedua. And guess what, salah satu novel saya juga akan ikut di seri kedua. Apa temanya? Bagaimana ceritanya? Dimana settingnya? Ssst… semua masih rahasia wokeh.

Iklan