Welcome 2021!

Melanjutkan tradisi sejak tahun 2019, 2018, 2017, 2016 dan 2015, dimana saya selalu mencatatkan apa yang sudah dan belum tercapai sepanjang tahun, maka saya sempat-sempatkan juga untuk membuat postingan ini.

Tahun 2020 adalah tahun yang berat untuk semua orang. Bulan Maret 2020 saat kantor dan sekolah pindah ke rumah, semua rutinitas hidup saya berubah dan semua rencana terjungkir balik. Liburan panjang yang sudah jauh hari direncanakan bersama keluarga gagal total. Aktivitas menulis yang sudah dirancang rapi mendadak menjadi prioritas terakhir dalam hidup saya. Waktu luang untuk menulis hampir tidak ada karena waktu 24 jam harus diatur sebaik mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan kantor dan kewajiban mendampingi anak belajar berdua dengan suami. Namun demikian, masih ada banyak hal yang bisa disyukuri baik dalam hal pribadi, keluarga dan pekerjaan. So here is the list…

Januari

Di bulan ini, saya dan novel saya, Misteri Harta Berdarah, masuk dalam kategori Author of the Year dan Novel of the Year Scarlet Pen Award atau Kusala Pena Merah tahun 2020. Saya berakhir tanpa menyabet gelar apapun, tapi dengan masuk nominasi, I already was feeling so grateful.

Februari

Di bulan ini 6 judul buku karya saya dari seri Menjadi Indonesia terbit. Sesuai dengan judulnya seri ini kental dengan muatan lokal. Keenam judul tersebut : Bendi dan Dompu, Rumah untuk Umang, Tangan-Tangan Yang Menari, Penantian Nandi, Impian Boma dan Hilang di Rumah Nenek. Saya sudah pernah berbagi kisah di balik penulisan buku-buku ini di artikel INI. Di bulan ini juga saya berhasil mendapatkan dua lagi gelar profesi yang berhubungan dengan pekerjaan kantoran saya. Gelar profesi yang kesekian belas (I have stopped counting, actually).

Maret

Bulan keramat. Di bulan inilah Work From Home, School From Home and anything from home started. Saya dan keluarga tergagap-gagap menyesuaikan diri. Ruang menulis saya sekaligus ruang kerja suami di lantai atas saya ambil alih sepenuhnya menjadi ruang kerja saya. Di bulan-bulan ini kalau tidak salah ingat, saya mulai merintis tulisan untuk diikutsertakan dalam sayembara Gerakan Literasi Nasional 2020.

April

Saya bersama puluhan penulis buku anak lainnya diundang untuk ikut berpartisipasi dalam Tim Penyusun Stimulus Assemen Kompetensi Minimum (AKM). AKM adalah perangkat untuk mengukur kompetensi siswa sebagai pengganti dari Ujian Nasional (UN) Tentu saja, tawaran ini tidak saya sia-siakan karena ini akan memberi saya pengalaman dan akan menjadi proses pembelajar yang menarik untuk saya juga. Saya kebagian tugas untuk menyusun stimulus untuk anak kelas 10, 11 dan 12. Saya sudah pernah menuliskan pengalaman saya dalam artikel : Pengalaman Menyusun Stimulus AKM 2020.

Mei

Di bulan ini keluar pengumuman bahwa saya bersama 30 penulis lainnya lolos dalam Sayembara Penulisan Buku Anak dalam Gerakan Literasi Nasional 2020. Sayembara ini diadakan oleh Badan Bahasa Kemdikbud sebagai bagian dari gerakan untuk menyediakan bahan bacaan yang bermutu untuk anak-anak melalui sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Saat ini buku yang yang saya tulis : Tari Ingin Menari masih dalam proses review dan penilaian oleh Tim dari Badan Bahasa. Mudah-mudahan tahun 2021, buku ini akan benar-benar terbit.

Juni

Bulan Juni adalah bulan mengajar :). Saya dan Kak Agnes Bemoe diminta untuk mengajar kelas penulisan kreatif oleh Yayasan Pulau Imaji. Tadinya saya maju mundur untuk menerima tantangan ini karena jadwal pekerjaan saya yang ‘mbuh’ lah, tapi karena ada bantuan dari Kak Agnes, maka saya pun menyanggupi. Kelas diadakan dalam bahasa Inggris dengan modul yang sangat komplit yang sudah ditentukan oleh Yayasan Imaji. Presentasi dalam bahasa Inggris bukan hal baru bagi saya, mengajar dalam suatu kelas penulisan juga bukan hal baru, tetapi mengajar kelas penulisan dalam bahasa Inggris adalah hal yang belum pernah saya coba. Modul yang padat dan murid-murid yang sangat kritis ternyata menjadi tangangan yang bukan hanya sulit tetapi juga seru dan menyenangkan. Cerita selengkapnya ada di sini : Creative Writing Program for Junior Author. Video recap ada di SINI.

Di bulan Juni pula saya menjalani dua hari pembekalan untuk Penulisan Buku dalam Gerakan Literasi Nasional 2020 bersama Tim dari Badan Bahasa dan beberapa mentor. Karena buku-buku yang akan dihasilkan dari kegiatan ini nantinya akan diterbitkan oleh Kemdikbud maka banyak sekali rambu-rambu yang harus dipatuhi. Kaidah kepenulisan juga sangat diperhatikan. Saya belum menceritakan apapun tentang proses pembekalan ini, mungkin kalau buku ini terbit nanti saya akan tuangkan ceritanya dalam blog ini.

GLN 1

Juli

Juli saya harus berkejar-kejaran dengan waktu karena tepat tanggal 31 Juli saya harus mengumpulkan hasil akhir buku Sayembara GLN 2020 dalam bentuk final artwork yang sudah lengkap semuanya mulai dari text hingga illustrasi dengan format yang sudah ditentukan. Dalam kondisi tubuh kurang fit dan kelelahan karena harus menulis di waktu luang yang sangat sempit, akhirnya saya berhasil juga menyelesaikan semuanya saat injury time. Perjuangan saya nanti akan saya share kalau bukunya sudah terbit ๐Ÿ™‚

GLN

Agustus

Pada bulan Agustus saya bersenang-senang bersama Penerbit Kiddo KPG, editor Mbak Dikha dan anak-anak dari klub Reporter Cilik Kumbo dan anak-anak lain dari berbagai kota di Indonesia dalam acara Club Detektif Junior untuk memecahkan Misteri Ruangan Terkunci. Acara yang sangat seru tapi juga serius karena berisi permainan pengasah otak. Kalau ada waktu (((kalau ada waktu))) saya akan bercerita tentang acara ini juga nanti di blog.

Masih di bulan yang sama, atas rekomendasi Kak Agnes Bemoe, saya kembali diminta untuk mengajar di kelas Creative Writing di SMP Citra Berkat di Jawa Timur. Kelas ini adalah kelas peminatan, khusus untuk anak-anak yang memiliki hobi menulis. Tadinya sempat ragu, lagi-lagi karena urusan klasik, apakah saya masih punya cukup waktu untuk ini semua. Tapi karena materi sudah siap, durasi kelas hanya 1 jam saja setiap pertemuan yang semuanya dilakukan secara online, maka saya pun menyanggupi. Kelas sangat hidup dengan banyak ide cerita segar yang siap dieksekusi menjadi bentuk-bentuk karya tulis kreatif. Sayangnya saat acara presentasi hasil karya anak-anak, saya tidak bisa hadir karena waktunya bertepatan dengan jadwal meeting kantoran saya. Semoga anak-anak ini bisa mengembangkan kemampuan dasar yang sudah diajarkan pada kelas ini untuk tulisan-tulisan mereka selanjutnya.

September

Bulan September, saya masih lanjut bersenang-senang. Klub Detektif Kumbo meminta saya untuk menjadi tamu dalam sesi Wawancara Tamu, suatu acara rutin yang biasa diadakan oleh Klub tersebut. Dalam sesi ini, para reporter cilik, anggota klub, bebas bertanya apa saja pada saya. Hasil wawancara ini akan mereka tuangkan dalam bentuk reportase. Keren banget kan? Foto-foto dari kegiatan ini sayangnya ada di perangkat saya yang sudah almarhum jadi akan butuh waktu untuk mencarinya. Kalau sudah ketemu nanti akan saya susulkan foto-fotonya di posting ini dan kalau ada waktu (sekali lagi-kalau) mungkin saya akan berbaik hati membagikan kisah keseruannya di blog ini juga ๐Ÿ™‚

Di bulan ini saya juga mendapatkan kiriman dokumen kontrak untuk buku saya yang sedianya akan terbit tahun ini, tetapi terpaksa ditunda karena pandemi. Mudah-mudahan bukunya bisa terbit tahun depan. Buku apa? Nanti akan diungkap perlahan-lahan pada waktunya…

Oktober

Saya mulai merasakan kerinduan teramat sangat untuk menulis novel lagi. Dalam genre misteri tentunya, tetapi otak yang penuh, jadwal yang padat, daftar ‘to do list’ yang panjang gak habis-habis membuat ide tidak bisa keluar. Saya mulai mencari kembali buku-buku referensi untuk memantik ide. Berhasilkah? Belum. Karena pada bulan-bulan ini saya kembali disibukkan dengan beberapa proyek penting dalam pekerjaan kantoran saya. Rencana untuk menulis novel terpaksa ditunda dulu, tetapi saya mendapatkan ide untuk menulis hal lain yang mungkin tidak sepanjang novel, jadi secara waktu masih ‘manageable’. Menulis apa? Kisah hidup.

kebetulan di bulan yang sama, Pak Bambang Trim dan Tim Epigraf Komunikata membuka kelas Menulis Kisah Hidup Kelasnya tidak panjang, hanya dua kali pertemuan dan diadakan pada malam hari. Pas dengan jadwal waktu saya. Jadi sayapun menantang diri tidak hanya untuk mengikuti kelas tetapi juga untuk terlibat dalam proyek antologi di kelas ini.

November

Di awal November, Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (MUNSI) yang ke III akhirnya diadakan setelah sempat tertunda selama beberapa kali akibat pandemi. Untuk bisa ikut dalam perhelatan akbar ini, calon peserta harus mengirimkan essay terlebih dahulu ke panitia penyelenggara yaitu Badan Bahasa Kemdikbud. Dari ratusan makalah yang masuk, saya bersama sekitar 150 penulis dan sastrawan lainnya lolos dalam seleksi dan bisa mengikuti MUNSI ini. Acara ini tadinya akan digelar secara tatap muka, tetapi karena pandemi akhirnya acara diadakan dalam dua cara sekaligus, tatap muka dan online atau dalam jaringan alias daring. Para peserta terpilih bebas memilih akan ikut tatap muka atau daring. Karena masih khawatir terpapar virus, saya memilih untuk berpartisipasi secara daring saja. Acara berjalan lancar dan berhasil menelurkan tiga point rekomendasi untuk dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah dalam jangka waktu tiga tahun ke depan. Saya akan coba menuliskan lebih detail tentang gelaran akbar ini di posting terpisah di blog.

Desember

Desember adalah waktunya menyelesaikan semua tugas kantor dan menyelesaikan semua target pekerjaan yang tersisa sebelum libur akhir tahun. Saya sama sekali tidak ada waktu untuk menulis, membaca apalagi. Tetapi ada dua kejutan manis di akhir tahun. Buku Itam dan U, proyek yang dikerjakan ramai-ramai bersama-sama tim Room to Read, Provisi, UNICEF, dengan bantuan para editor dan ilustrator akhirnya diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Kemdikbud secara cetak maupun digital. Saya akan menuliskan lebih jauh tentang cerita behind the scene penulisan buku ini di blog. Sementara itu silakan dinikmati dulu ceritanya di link berikut ini (Bahasa Indonesia) dan link ini (Bahasa Inggris)

Kejutan yang kedua, saya mendadak mendapat kesempatan untuk mengikuti Ujian Sertifikasi Kompetensi Penulis Non Fiksi secara cuma-cuma dengan pendanaan dari Kemdikbud melalui jalur portofolio. Wow! Karena mendadak, saya tak punya persiapan. Namun Puji Tuhan, Assesor yang menguji saya akhirnya memutuskan saya “Kompeten” sebagai penulis non fiksi yang artinya saya lolos dalam uji sertifikasi ini. Mudah-mudahan sertifikat fisik bisa selesai dan sampai ke tangan saya tahun depan.

What’s Next?

Untuk tahun 2021, ada beberapa buku yang dijadwalkan terbit : buku GLN, buku dari beberapa penerbit dan buku antologi. Belajar dari pengalaman tahun 2020 yang menjungkirbalikkan semua rencana, di tahun 2021, saya akan pasrah saja. Apapun yang bisa dikerjakan, dikerjakan sesuai prioritas masing-masing. Semoga tahun depan bisa lebih baik dalam segala hal : dalam pekerjaan, dalam karir kepenulisan saya dan dalam hidup keluarga. Tuhan memberkati.