Behind The Scene : Seri Binatang Pejuang

Melestarikan tradisi yang sudah-sudah, kali ini pun saya akan membagikan kisah saya menciptakan buku Seri Binatang Pejuang yang terbit kira-kira bulan Maret 2019 lalu. 

Ide awal 

Tema dan gagasan buku ini datang dari Mas Dhidiet, editor di Penerbit Tiga Serangkai. Ide dilontarkan pertama kali di awal tahun 2017. Saat itu saya ditawari untuk menulis dua seri cerita binatang. Karena saya memang suka membuat cerita fabel, maka saya terima tawaran ini, kebetulan pula tema yang dibuat masih berhubungan dengan animal science yang saya senangi. Salah satu dari dua tema itu adalah tentang binatang pejuang. Tema yang satunya lagi? Masih rahasia dong! Semua akan diungkap pada waktunya nanti  *smile

Benang merah cerita dalam Seri Binatang Pejuang cukup jelas, yaitu karakter pantang menyerah dari para binatang yang hidupnya sungguh berat. Gimana gak berat. Coba bayangkan ikan salmon yang harus berenang melawan arus ke hulu sungai demi tujuan mulia, dan habis itu mati, pulak. Lalu ada kisah tentang kambing gunung yang harus naik-naik ke puncak gunung dan turun-turun lagi ke lembah hanya demi bisa mencari tempat hidup yang banyak makanannya.  

Tujuan dari penulisan seri ini adalah untuk menanamkan karakter pantang menyerah pada anak-anak, juga tentang pengorbanan dan perjuangan hidup. 

Memilih binatang

Di tahap awal pelemparan ide, ada beberapa jenis hewan yang sudah dipilihkan Editor, dalam perkembangannya ada beberapa hewan tersebut yang terpaksa diaborsi dan diganti dengan hewan lain, bahkan setelah naskah selesai ditulis karena satu dan lain hal. Hasil akhirnya terpilih lima binatang pejuang tangguh yaitu : Seli si ikan salmon, Don si keledai, Ello si penguin, Eli si Aligator, Ruru si ayam jantan dan Ireng si kambing gunung.

Riset

Referensi kisah hidup beberapa hewan seperti penguin dan salmon banyak ditemukan baik di artikel internet, online journal, buku-buku maupun video dokumenter. Namun hewan seperti kambing gunung sungguh susah referensinya, apalagi habitat hewan itu juga bukan di Indonesia.  Saya menemukan suatu makalah yang cukup bagus dan lengkap  di internet tentang kebiasan migrasi kambing gunung, tetapi saat saya hubungi penulisnya, yang adalah peneliti di salah satu universitas di dunia utara sana melalui email, email saya tidak pernah dibalas. Jadi saya pun terpaksa beralih ke sumber-sumber riset lain.

Writing, Editing, Ilustrating, Proof Reading

Proses penulisan cukup lancar, langsung dilanjutkan ke proses ilustrasi. Yang bikin lama dalam proses ini sebenarnya adalah saya, yang seringkali lambat merespon email dari editor karena kesibukan saya yang luar biasa. Bukan sok sibuk, tapi beneran sibuk. Jadinya proses review dari saya terlambat lama sekali. 

Seiring dengan proses editing dan ilustrating, sesuai kebijakan baru dari Penerbit, maka harus ada review khusus mengenai isi buku yang akan dibuat dari ahli di bidang ilmu biologi. Beruntung Mas Dhita bersedia membantu saya mencarikan tenaga ahli. 

Setelah mengendap beberapa lama, di bulan Maret, saya mendapat kiriman tak terduga :  bukti terbit Seri Binatang Pejuang! Yeay! Akhirnya buku ini terbit juga setelah 2 tahun proses penulisan. 

Terimakasih untuk Penerbit Tiga Serangkai dan Editor yang sudah membuatkan konsep yang bagus, dan sudah bersabar menghadapi kelambatan respon dari saya selama proses penulisan berlangsung. Terimakasih juga untuk para ilustrator yang hasil karyanya telah membuat buku ini menjadi hidup : Mas Alvin Adhi, Bella Anshori dan Ahmad Saba Dunya. Semoga buku ini bisa dinikmati dan bermanfaat untuk anak-anak Indonesia.

Judul lengkap Seri Binatang Pejuang : 

  1. Teruslah Berenang, Seli!
  2. Teruslah Mengembara, Ireng!
  3. Teruslah Berkokok, Ruru!
  4. Teruslah Mengerami, Elo!
  5. Teruslah Berjalan, Don!
  6. Teruslah Berjaga, Eli!
Iklan