Misteri Gua Purba – Behind the Scene

UV SPOT- Cover Misteri gua purba

Siapa sangka menulis cerita misteri ternyata membuat ketagihan. Ya, setelah naskah buku Misteri Kota Tua selesai ditulis sekitar bulan Oktober tahun lalu (dan terbit bulan Januari 2014), saya merasa ingin lagi menulis buku dengan tema sejenis: misteri-detektif-petualangan-sejarah. Terlebih lagi saya merasa ada begitu banyak daerah di Indonesia yang bisa dieksplorasi dan ada ribuan kisah sejarah yang dapat diangkat menjadi latar belakang cerita. Jadi mulailah saya kembali berpikir, akan menulis cerita misteri apa lagi?

Munculnya Ide

Ide untuk buku misteri kedua ini datang pada saat yang paling tak terduga. Ceritanya begini: suatu ketika, saya kebetulan lewat di depan Rumah Sakit PGI di daerah Cikini. Saya ingat kalau rumah sakit itu dulunya adalah tempat tinggal Raden Saleh, maestro lukis Indonesia di abad 19. Yang paling saya kenang akan Raden Saleh adalah lukisannya yang terkenal, yang diberi judul “Penangkapan Diponegoro”. Tiba-tiba saja setrum di otak saya menyala. Saya jadi ingin menulis cerita misteri yang berlatar belakang perang Jawa atau lebih dikenal dengan sebutan perang Diponegoro.

Setelah melalui studi literatur yang panjang (alias membaca kembali buku-buku sejarah yang tak pernah membosankan bagi saya), akhirnya saya memilih salah satu pertempuran yang terjadi dalam masa awal Perang Jawa tahun 1825. Pertempuran dengan outcome yang menurut pikiran saya cukup ‘menggelitik’ untuk dijadikan latar belakang cerita. Pertempuran yang mana? Di mana? Eits, nantikan saja bukunya dan baca sendiri, wokeh? J

Oke, latar belakang cerita sudah ketemu, lalu apa? Buntu. Saat buntu melanda, tiba-tiba saya mendapat kunjungan menyenangkan dari Ayah saya tercinta. Beliau membangkitkan kenangan masa kecil tentang banyak hal: cerita pusaka kuno yang dimiliki kakek di Jogjakarta, kampung di Gunung Kidul, gua-gua karst misterius di pesisir selatan Jawa, desa damai di Godean dan karakter anak bandel berambut kribo (ini saya waktu kecil kehkehkeh…)

Dan…jreng! Sayapun menemukan seluruh gambaran isi cerita dalam kepala saya. Saya kembali menemukan momen ‘kesambet’ saya (momen di mana saya bisa menulis bagaikan orang kesambet, gak berhenti-berhenti hingga selesai). Kalau dalam buku Misteri Kota Tua momen kesambet saya lahir saat sedang membaca satu paragraf tulisan dalam buku karangan Rosihan Anwar, maka di buku kedua ini momen kesambet itu dimulai saat perbincangan yang hangat di suatu Sabtu siang dengan Ayah saya.

Allright, karena kepala sudah ngebul, waktunya untuk mulai menulis.

Menciptakan Karakter

Seperti di buku terdahulu, saya plin plan. Tidak tahu mau membuat tokoh utama anak perempuan atau anak laki-laki. Jadi akhirnya saya memilih untuk menggunakan dua karakter utama, laki-laki dan perempuan. Karena ini cerita bersetting Jawa Tengah, maka nama karakternya pun disesuaikan. Melalui semedi, akhirnya dipilih nama Bagas dan Galuh.

Selain tokoh antagonis, saya juga harus menciptakan tokoh protagonis. Untuk menimbulkan kesan nge-thriller (sok bergaya thriller), maka tokoh jahat (menurut saya) harus punya suatu julukan tertentu. Julukan yang biasa diasosiasikan dengan sesuatu yang menimbulkan ngeri dan takut. Kalau di buku Misteri Kota Tua ada tokoh ‘Si Muka Codet’, maka di buku kedua ini ada ‘Si Mata Satu’ dan ‘Si Tato Tengkorak’.

Deretan tokoh ‘bumbu’ harus diciptakan juga. Tokoh bumbu adalah istilah yang saya ciptakan untuk tokoh-tokoh yang penting, namun hadir hanya selintasan saja. Walaupun selintas mereka harus mampu memberi kesan yang kuat dan memberikan selingan yang menyenangkan. Tokoh bumbu ini bukan tokoh tak penting, karena pada prinsipnya pantang bagi saya menciptakan tokoh tak penting, tokoh yang kalaupun gak ada gak apa-apa, tokoh yang maksud dan tujuannya dalam buku serba gak jelas. Tokoh bumbu dalam buku saya tetaplah tokoh penting. Untuk menciptakan kesan kuat (padahal hanya muncul sekilas), seperti biasa, tokoh bumbu saya buat lucu, aneh atau punya kebiasaan yang lain daripada yang lain. Siapa saja tokoh bumbu dalam buku ini. Hehehe…baca saja dalam bukunya nanti ya…:) 🙂

Membuat Alur

Sekedar sharing singkat, cara-cara saya membuat alur adalah sbb: (mungkin jika ada waktu, di lain tulisan saya akan sharing lebih banyak mengenai proses pembuatan alur dalam buku-buku saya). Oiya sekali lagi ini hanya sharing. Penulis lain mungkin memiliki cara berbeda dalam menyusun alur.

  1. Saya membuat seluruh cerita dalam alur maju. Dari tahun 1825 hingga 2014, semua bergerak maju.
  2. Setelah yang maju sudah jelas, minim lubang, dan cukup kuat (di mata saya), mulailah alur maju itu saya acak-acak. Di depan dibuat di belakang, yang jelas di belakang, dibuat clue di depan, dst.
  3. Untuk membuat ups and down cerita, saya berpedoman pada teori “the hero’s jorney”.   Penjelasan dan penerapan konsep ‘hero’s journey’ ini bisa didapatkan dari internet (saya mendengar teori ini pertama kali dalam kelas offline menulis novel oleh Mbak Dyah Rinni, lalu saya coba kulak-kulik sendiri di internet).
  4. Seperti biasa, saya membuat sketsa plot dengan tulisan tangan. Truly, I know no other way 🙂

plot daluang

Kalau di buku pertama saya mengulas tentang kehidupan dan budaya komunitas Tionghoa Benteng Tangerang, di buku kedua ini, saya akan bermain-main dengan pusaka Jawa dengan latar belakang kisah kepahlawanan melawan penjajah Belanda di Jawa Tengah. Jika di buku pertama yang menjadi pengikat alur adalah secarik sobekan surat berbahasa Mandarin, maka di buku kedua penjalin ceritanya adalah naskah puisi beraksara Jawa yang tercatat dalam selembar daluang kuno.

Oke seperti itulah prosesnya. Alur selesai dalam 2 hari.

Mulai Menulis

Karena alur sudah selesai, proses menulis cukup cepat. Tiga minggu selesai. Sekalian menjawab pertanyaan dari beberapa teman mengenai bagaimana cara saya menyisihkan waktu untuk menulis, well jika di rumah, saya menulis jika anak-anak sudah tidur, jika di luar rumah saya menulis di mana saja saya sempat, dengan BB, tablet, laptop atau tulisan tangan.

Setelah penulisan selesai, naskah ini saya diamkan cukup lama karena kesibukan pekerjaan profesional saya yang lain (yang tak ada hubungan dengan dunia tulis menulis) dan keribetan dengan proyek-proyek buku yang lain.

Menuju Penerbitan

Saya baru ingat tentang naskah ini, yang saat itu saya beri judul Misteri Daluang Kuno, saat Mbak Dikha, editor Penerbit Kiddo yang cantik mengirim pesan singkat pada saya. Saya pun dengan tak tau malunya menawarkan naskah saya pada Mbak Dikha. Beliau bersedia mereviewnya. Horeee (baru bersedia direview saja saya sudah euphoria hehe).

Saat akan dikirim ke Mbak Dikha, tiba-tiba saya berpikir ulang mengenai ending cerita. Menurut saya, ending cerita harus tak dapat diduga, dan kebetulan saya menyukai ending terbuka. Saya minta waktu pada Mbak Dikha untuk merombak bagian akhir cerita. Dikabulkan.

Butuh tambahan waktu dua minggu bagi saya untuk membuat ending cerita yang sesuai dengan keinginan saya. Setelah dibaca ulang sekali lagi, saya beranikan diri mengirim naskah tersebut lewat email. Naskah saya kirim jam 8.30 pagi. Kira-kira jam 3 sore di hari yang sama, saya mendapat konfirmasi bahwa naskah saya lolos seleksi dan akan diterbitkan sebagai kelanjutan Seri Novel Misteri Favorit. Cihuuuu *koprol*kayang*tigerjump* Saat itu saya yang sedang meeting jadi mendadak senyum terus…..:) J Proses acc ini adalah yang tercepat sepanjang sejarah hidup saya.

Editing

Setelah itu, seperti bisa diduga, proses ngos-ngosan mengejar deadline terbit dimulai lagi.  Suasana editing seru banget. Kalau di buku pertama, saya dibantu oleh Teh Ary Nilandari dalam kelas onlinenya, maka di buku kedua ini, saya sepenuhnya dibantu oleh Mbak Dikha. Dengan jeli Mbak Dikha akan menunjukkan lubang-lubang yang masih tertinggal dalam cerita saya dan membantu menutupnya. Oiya, judul buku ini akhirnya diganti menjadi Misteri Gua Purba, sesuai dengan setting dalam klimaks cerita: sebuah gua purba yang misterius. Gua apa? Purba? Apanya yang misterius? Ehem…sabar…nanti baca saja di bukunya ya…

Supaya sama dengan buku-buku terdahulu, saya harus menyisipkan banyak pengetahuan unik sepanjang cerita. Jadi buku ini nantinya tak hanya menegangkan tapi pastinya akan menambah wawasan pembaca.

Selain Mbak Dikha, ada Mas Indra Bayu yang membantu menerjemahkan suasana dalam cerita ke dalam gambar. Kerjasama yang heboh, menyenangkan, menantang dan asyik banget. Okeh, dalam sekejap buku siap naik cetak. Tinggal menunggu peredarannya di toko buku. Semoga saja buku misteriku yang kedua ini juga mendapatkan sambutan hangat dari pembaca.

PS. Saat sedang mengedit buku kedua ini, tiba-tiba otak saya ngebul lagi hehe. Ide cerita misteri yang ketiga tiba-tiba nongol tanpa diminta. Saat ini saya sedang dalam proses menuliskan ide itu menjadi sebuah naskah buku. Ide apa lagi? Ssst…tunggu saja sampai proses penulisannya selesai ya J Yang pasti takkan kalah seru dibanding Misteri Kota Tua dan Misteri Gua Purba. Stay tune, readers!

Iklan