Dari AFCC 2019 : Minority Representation in Indonesian Children Literature

Di atas adalah cuplikan dari makalah yang saya bawakan bersama Kak Agnes Bemoe dalam forum Asean Festival of Children’s Content di Singapura pada tanggal 6 September 2019 lalu.

Cerita lengkap dari sudut pandang Kak Agnes sudah dimuat di websitenya dan bisa dibaca di link ini : Mengikuti Kegiatan AFCC 2019. Saya hanya akan menambahkan sedikiiit saja di artikel ini dari sudut pandang saya.

Why Join the AFCC?

Sebenarnya, sudah lama saya menyimpan keinginan untuk memperkenalkan karya-karya saya pada audience yang lebih luas. Impian saya adalah untuk memperkenalkan pada khalayak bahwa di Indonesia, selain buku-buku dengan tema-tema umum, ada juga buku-buku yang mengangkat tema-tema khusus tentang hal-hal yang penting tetapi belum banyak diketahui orang, tentang anak-anak, budaya dan kehidupan kelompok-kelompok tertentu yang selama ini belum atau jarang direpresentasikan dalam buku anak-anak.

Kesempatan yang saya pikir fair dan equal datang dari event AFCC yang setiap tahun melakukan panggilan makalah (call for papers). Kenapa saya bilang fair dan equal? Karena sifatnya terbuka untuk siapa saja yang berminat pada kemajuan content untuk anak-anak, dari negara mana saja. Tentu saja, tidak semua proposal makalah akan disetujui untuk ditampilkan di dalam event tersebut. Ada kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi calon pemakalah, misalnya: kualitas isi, kedalaman pemikirkan, kesesuaian dengan tema event yang berubah setiap tahun, profil si pemakalah, manfaat yang akan bisa dipetik oleh para audience, impact pembahasan, dan lain-lain.

How did we prepare our paper?

Sejak awal saya memang ingin sekali berkolaborasi dengan Kak Agnes Bemoe karena ada kesesuaian pola pikir, idealisme dan karya. Kami sudah intensif berkomunikasi tentang AFCC sejak pertengahan 2018. Bahkan hampir saja ketemuan di AFCC 2018, namun karena satu dan lain hal, kami batal ketemu. Untuk tahun 2019 diskusi bergulir sejak pengumuman call for paper keluar dan kami pun segera menyusun abstract sebagai bahan pertimbangan panitia. Karena pada awalnya tidak berharap banyak, kami senang sekali ketika akhirnya proposal makalah kami diterima walaupun format presentasinya dirubah dari seminar menjadi panel discussion.

Salah satu kendala dalam menyusun makalah adalah data. Kami tidak punya market data yang komprehensif, hanya berdasarkan diskusi dengan editor kami masing-masing, data-data kasar dapat kami terima. Kemudian kendala lain adalah memilih buku-buku karya penulis Indonesia yang akan kami jadikan showcase atau studi kasus dalam makalah kami.

Ini buku-buku saya, yang saya sajikan dalam makalah :

Baca juga:

Buku-buku lain yang kami bahas sudah diterangkan panjang lebar oleh Kak Agnes di blognya.

How Did We Present Our Paper?

Sepanjang acara dari hari pertama, banyak sekali seminar, kuliah umum, workshop, panel discussion yang membahas tentang issue Diversity, Minority, Multi Culturalism karena memang tema tahun 2019 adalah tentang hal itu. Saya akan tuangkan pengalaman saya menghadiri sesi-sesi dalam AFCC ini di artikel terpisah. Stay tune!

Karena ada beberapa pembicara dengan tema-tema serupa maka ada beberapa topik yang pembahasannya dijadikan satu dalam bentuk panel diskusi termasuk sesi kami. Panelis dalam sesi kami selain saya dan Kak Agnes adalah seorang dosen yang meneliti kehidupan suku terasing di Filipina Selatan dan perwakilan penerbit yang menerbitkan buku-buku muslim di Amerika Serikat. Karena itu, waktu kami sangat singkat dan semua harus disampaikan dengan padat. Kami harus memotong beberapa bagian dari presentasi kami (and that was not an easy job!)

Isi dari presentasi kami juga sudah disampaikan secara lengkap oleh kak Agnes dalam blognya.

Sesi kami cukup ramai, dihadiri oleh penulis, guru, penerbit, pustakawan. Lebih ramai dari sesi saya tahun lalu :).

Baca juga :

Karena waktu terbatas, tidak banyak kesempatan untuk bertanya jawab. Dari sisi audience, mudah-mudahan saja dalam waktu yang singkat, informasi yang kami sampaikan bisa menambah wawasan tentang karya sastra anak di Indonesia.

Dari sisi saya sendiri sebagai pembicara, setidaknya saya cukup senang karena kami sudah bisa:

  1. Memperkenalkan karya kami dan karya penulis Indonesia lainnya dengan tema-tema minority
  2. Memperluas audience untuk karya-karya kami
  3. Memperkenalkan diri sebagai penulis

Saya sangat merekomendasikan event ini untuk teman-teman penulis yang punya keinginan untuk menambah ilmu. Semoga saja tahun-tahun berikutnya saya tetap bisa datang ke event ini, walaupun tidak menjadi pembicara.

Iklan