Behind the Scene – Novel Misteri Batu Bertulis

Yah, untuk yang penasaran, ini dia cerita di balik layar tentang penciptaan novel misteri saya yang terbaru dari Seri Misteri Favorit terbitan Kiddo – KPG

Risalah singkat proses penulisan 

Proses penulisan buku ini sebenarnya cukup lama. Mulai dari penemuan ide, pematangan konsep, survey, pembuatan plot hingga terbit memakan waktu kira-kira tiga tahun. Benar, TIGA tahun, t-i-g-a. Saya tidak salah ketik. Saya sudah mulai memikirkan ide ini sejak pertengahan 2015, saat buku misteri saya Misteri Gurindam Makam Kuno juga sedang dalam tahap finalisasi. Buku Misteri Batu Bertulis resmi terbit pada bulan Desember 2017, jadi lebih dari tiga tahun sejak ide mulai bergulir.

Apakah tiga tahun waktu yang lama?

Buat saya? Tidak. Buku-buku saya yang lain ada yang memakan waktu lebih lama untuk terbit. Seri Hari-Hari Seru Dorothy memerlukan 8 tahun dan Seri Dongeng Binatang menghabiskan waktu 6 tahun.

cover MISTERI BATU BERTULIS jpeg

Konsep yang berubah-ubah, penentuan karakter yang bukan yang begini bukan yang begitu dan bongkar pasang plot yang heboh membuat waktu tiga tahun berlalu tak terasa. FYI, saya punya delapan, betul, d-e-l-a-p-a-n ending yang berbeda untuk masing-masing versi plot. Tapi mungkin bagi penulis lain, lama proses ini tidak ada apa-apanya.

Jadi, moral of the story is : jangan pernah mengecilkan perjuangan penulis lain dalam menghasilkan karyanya apalagi menjelek-jelekkan karya penulis lain tersebut hanya karena kamu merasa usahamu lebih keras. Kamu tidak pernah tahu bagaimana sebenarnya perjuangan penulis lain sebab tidak semua penulis gemar berkeluh kesah di media sosial selama proses kreatifnya. *ini saya ngomong ke diri sendiri, maklum, lagi mabuk kucay*

Pencetus Ide

Dari judulnya, pasti sudah bisa menebak, kota mana yang saya jadikan seting untuk novel terbaru ini. Bogor? Yes benar. Ide muncul saat saya membaca buku “Historical Sites of Jakarta” karya Adolf Heuken SJ. Buku itu pertama kali saya baca 12 tahun lalu dan tahun 2015 saya baca kembali untuk refreshing saja. Sejak saat itu, every now and then saya masih sering membaca-baca buku ini karena isinya memang bagus sekali.

Heuken2

Di buku ini ada cerita tentang Pelabuhan Calapa, yang merupakan bandar ramai milik kerajaan Sunda Pajajaran. Bandar ini nantinya dikenal dengan nama Sunda Kelapa. Saya jadi tertarik untuk menulis cerita yang berlatar belakang sejarah kerajaan Pajajaran, bukan tentang kejayaannya, tetapi mengenai kejatuhannya yang tragis, yang hingga kini masih dikenang sebagai momen yang “eurih” atau memilukan, sesuai dengan nama sebuah desa di Bogor Selatan yang warganya percaya bahwa mereka adalah keturunan pengikut setia kerajaan Pajajaran.  Fakta tentang desa ini saya temukan saat survey bukan dari buku.

Bogor, Here We Come!

Survey ke lokasi setting saya lakukan di akhir Januari 2016. Survey ini jadi istimewa karena saya ditemani oleh si Papa, yeay! Jadi satu hari penuh kita piknik naik motor rombeng umur 10 tahun blusak blusuk sampai bokong miring dan kalibrasi pinggang bergeser.

Tadinya saya ingin survey ke kawasan bekas pusat kerajaan Pajajaran, tetapi akhirnya saya putuskan untuk mulai dari arah selatan, ke lokasi yang konon menjadi cikal bakal kerajaan sebelum menjadi besar dan tempat pelarian prajurit Pajajaran setelah kerajaan itu runtuh di jaman dahulu. Jadi tempat semua berawal dan berakhir. Di mana? Eits, Spoiler. Semua ada di buku, okeh.

Untuk mencari nara sumber, saya mengunjungi sebuah kampung budaya. Tapi kampung ini tidak saya jadikan seting karena ini bukan kampung asli tetapi hanya merupakan miniatur saja dari kampung adat Sunda Pajajaran. Kampung ini dibuat sebagai upaya melestarikan adat istiadat dan budaya Sunda buhun, wiwitan, atau apa pun istilahnya. Walaupun kampung ini tidak saya masukkan ke dalam novel tetapi di sini saya bertemu dengan Bapak Asep. Dengan bantuan Beliau yang luar biasa, saya bisa mendapatkan informasi yang sangat berharga. Bahkan beliau rela mengantar saya keliling-keliling kampung menjelajahi tempat-tempat yang beneran kuno, dan saya masukkan ke dalam setting. Tempat apa? Sekali lagi, spoiler. Baca saja di bukunya.

1456214585753

1454845089576

Dari Pak Asep, saya jadi tahu bagaimana perjuangan beliau melestarikan berbagai situs budaya yang ada di sekitanya karena kadang budaya dipertentangkan dengan banyak hal lain. Yang juga menjadi concern adalah banyakya situs yang sebenarnya adalah peninggalan sejarah, diperlakukan sebagai tempat meminta-minta atau memuja-muja. jadi fungsi artefak sebagai sumber sejarah menjadi luntur.

Oke lanjut, proses selanjutnya adalah….mandeg… iya berhenti.

Selama berbulan-bulan saya tidak tahu hasil survey mau saya apakan, karena terlalu banyak gagasan dan tujuan yang simpang siur. Ide cerita sudah ada, tetapi tidak jelas mau dibawa ke mana.

Lalu di bulan Maret 2016, saat dalam perjalanan pulang dari mengisi acara sharing kepenulisan di SDK BPK Penabur, ModernLand, saya sempat membahas ide cerita saya ini dengan Mbak Dikha, editornya Kiddo-KPG. Mbak Dikha menyambut baik, namun alih-alih berkonsentrasi pada ide ini, Mbak Dikha malah menawari saya ikut dalam proyek Seri Pengenalan Budaya dari Kemdikbud. Akhirnya konsep naskah Batu Bertulis ini pun saya tinggal sekalian. Iya. Bubar.

Study Literature

Setelah proyek Seri Pengenalan Budaya selesai di Agustus 2016, saya mencoba untuk berkonsentrasi lagi dengan si Batu Bertulis. Supaya ide saya tidak terlalu liar, maka saya putuskan, saya harus belajar dari ahlinya, tepatnya dari buku-buku karangan sejarawan Sunda : Saleh Danasasmita.

Ssst… dari buku ini, terungkap bahwa jejak-jejak kerajaan Pajajaran masih bisa ditelusuri hingga kini! Serius! Ini spoiler, jadi saya tidak akan bicara apa-apa lagi.

IMG_20171217_141143

Menentukan Karakter

Untuk buku ini, Bagja dan Mira akan kembali hadir. Sudah tahu mereka kan? Iya, benar. Mereka adalah tokoh utama dalam Novel Misteri Kerajaan Kuno. Bagaimana Bagja dan Mira bisa terdampar dari Banten ke Bogor? Spoiler. Baca aja di bukunya.

Kenapa saya memilih Bagja dan Mira, erg, saya sudah lupa sebabnya. Pokoknya begitulah *its complicated*

Slide 15

Membuat P L O T (with capital letters)

Okeh, karena ide sudah ada, dan guideline literature sudah ada serta karakter sudah fix, jadilah saya membuat plot. Plot jadi. Dua versi sekaligus. Tapi sebelum matang saya keburu dihajar kesibukan dan kewajiban beradaptasi di pekerjaan saya yang baru. Jadilah 2016 berlalu tanpa saya berhasil menyelesaikan naskah ini.

Kegilaan berlangsung hingga pertengahan 2017, bongkar pasang plot, tak habis-habis, sepertinya saya kehilangan arah (dan mungkin juga kehilangan pikiran….)

1484474592945

Proses dasar saya dalam membuat ploting sudah pernah saya tuliskan di artikel  Begini Cara Saya Membuat Novel. Khusus untuk buku ini, proses yang sama saya ulang berkali-kali dengan outcome ending yang berbeda-beda, yang membuat galau, mana yang mesti dipilih. Sementara Mbak Dikha kadang-kadang suka info (dan saya juga suka nanya) tentang jadwal terbit novel selanjutnya karena saya dengar sudah ada naskah karya dua penulis lain yang siap terbit. Saya bilang ke seluruh pemangku kepentingan, punya saya masih jauh. Jangan ditunggu, karena saya sedang kurang waras, jadi kemungkinan naskahnya enggak akan jadi cepat.

Menuju Terbit

Singkat cerita, miraculous thing happened. Yeah! Naskah selesai! Waktu itu, bulan Maret 2017. Saya kirim ke editor kesayangan. Dan setelah itu, giliran saya yang didiemin editor. Tidak ada feedback selama beberapa bulan. Editor ngambek? Enggak, bukan. Karena jumlah editor menyusul dan Penerbit sedang banyak proyek, jadi naskah ini harus ngantri dulu. Terus saya ngapain dong? Ngomel di media sosial, gitu? Ya enggaklah. Saya menunggu. Dengan sabar. Lebih baik menunggu daripada naskah terbit asal-asalan karena kurang edit atau salah edit sehingga meninggalkan plothole atau ketimpangan karakter atau ending yang dodor.

Revisi terjadi. Jadwal terbit ditetapkan. Weks, what? ayo dikebut! Lalu ilustrasi terjadi, dan hal-hal lain juga. Selesai. Terbit? Belum. Jadwal diundur. Masih nunggu yang lain-lain. Baiklah.  Saya tunggu. Sekali lagi, dengan sabar. November 2017 saya dapat info kalau buku Misteri Batu Bertulis akan terbit di Desember 2017 bersama dengan Misteri Kota Tua. Ah yang bener? Eh ternyata beneran. Kedua buku ini sudah ada di toko buku.

Terimakasih untuk Penerbit Kiddo-KPG, Mbak Dikha, Mas Indra Bayu, cheerleader di rumah dan tukang kopi di warung di situ itu, yang selalu jadi tempat mengungsi untuk menulis.

Demikian cerita saya yang singkat tentang proses yang panjang. Semoga betah membaca sampai akhir.

 

Selamat membaca Misteri Batu Bertulis!

Detail buku ada di SINI

Cuplikan isi buku bisa dibaca di SINI

Daftar lengkap Seri Misteri Favorit karangan Yovita Siswati ada di Sini

Book Trailernya ada di SINI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan