Seri Dongeng Binatang – Behind the Scene

Seri Dongeng Binatang, believe it or not, adalah salah satu dongeng yang paling awal saya tulis yaitu sekitar tahun 2009. Dongeng ini pula termasuk yang tercepat saya tulis (maih kalah dibanding Serial Koko and Kiki Going Swimming dan Koko and Kiki Going Fishing). Yang  fenomenal dari serial ini adalah proses penerbitannya yang sangat berliku-liku. Oke beginilah ceritanya…

Menemukan Ide

Sejak si sulung saya alias Si Kakak berumur 3 tahun, dia selalu minta didongengin setiap malam. Dongengnya harus beda-beda. Gak boleh sama. Kalau sampai ada yang sama baik karakter maupun ceritanya maka ia akan mogok bobok sampai jam 2 pagi. Jadiii untuk menghindari mata bolor dan kepala senut-senut di siang hari saat jam kerja kantoran saya, jadilah saya berjibaku mencari ide untuk bisa mendongeng setiap malam. Waktu itu saya sama sekali tidak tahu bagaimana cara mendongeng yang benar atau membuat cerita yang fascinating. Cerita saya buat spontan saja, dan sebisa saya saja. Lama-lama si Kakak berasa juga kalau dongeng emaknya membosankan, itu-itu aja dan datar banget, kadang malah muter-muter gak jelas mulai dari cerita ayam jantan berkokok hingga ayam betina terdampar di pulau ipratiprit. Proteslah si Kakak, pusinglah emaknya. Setelah memutar otak, saya terpikir untuk mempelajari cerita-cerita di filem-filem kartun yang sering diputar di Disney Channel. Terus terang proses saya mempelajari film-film kartun inilah yang menyebabkan saya jatuh cinta pada dunia cerita anak.

Oke, dari CD-CD kartun ini saya jadi dapat gambaran cerita seperti apa yang kira-kira menarik hati si Cilik, Saya tidak tahu secara teori apakah pemahaman saya akan struktur cerita ini benar atau salah tapi selama ilmu yang saya pelajari bisa melahirkan dongeng yang bikin si Kakak puas dan mau bobok, cukuplah (dasar teori menulis cerita anak baru saya dapat belakangan ini, setelah saya ikut beberapa kelas menulis). Selain CD kartun saya juga banyak mengintip video dongeng anak yang dipublish di youtube.

Lama-lama dongeng yang buat jadi banyak. Dengan daya ingat yang terbatas dan otak saya yang kecil ini, saya coba tulis dongeng-dongeng yang pernah saya ceritakan ke si Kakak. Terkumpulah sepuluh biji cerita. Lalu dengan proses mencari penerbit pun dimulai. Oiya, proses saya menemukan jodoh penerbit bisa dilihat di postingan ini : Ini yang saya lakukan untuk menembus penerbit

Perjalanan Mencari Jodoh Penerbit

Perjalanan menemukan jodoh untuk serial ini adalah yang terlama sepanjang sejarah karir saya sebagai penulis buku cerita anak. Pertama naskah dikirim ke sebuah penerbit di kota kembang. Ditolak. Dikirim ke penerbit satu di Jakarta. Ditolak. Penerbit dua. Ditolak. Penerbit tiga. Ditolak. Pokoknya banyak kali. Bermacam-macam alasan.

Setiap kali ditolak saya selalu melakukan revisi. Berapa kali? Coba kita hitung:

  1. Dongeng saya buat dalam bahasa Indonesia saja, lalu direvisi menjadi :
  2. Dongeng dua bahasa Inggris – Indonesia, lalu revisi lagi menjadi
  3. Dongeng berima – Indonesia saja, lalu berubah lagi menjadi
  4. Dongeng berima – Indonesia dan Inggris, dengan text bahasa Inggris yang berima juga (bayangkan kepusingannya mencocokkan terjemahan rima Inggris – Indonesia), lalu…
  5. Revisi format, dari 20 halaman menjadi 24 halaman, laluuu supaya lebih beruntung…
  6. Saya pecah 10 dongeng itu menjadi tiga bagian dengan sub tema yang berbeda, masing-masing berisi 3 dongeng. Masing-masing sub tema dikirim ke penerbit berbeda

Beruntung? Belum.

Lalu, pada suatu pameran buku di Jakarta, saya nemu stand Penerbit Tiga Serangkai. Di stand itu saya berhasil mendapatkan kartu nama Bapak Erik Miharja. Well, sebenarnya yang mendapatkan kartu nama itu adalah suami saya, Si Papa, karena saya pemalu dan jiper, gak berani nanya-nanya. Akhirnya yang nanya-nanya tentang cara mengirim naskah ke Tiga Serangkai adalah Si Papa, dan dapatlah kartu nama itu.

Setelah beberapa waktu, saya beranikan kirim email ke Pak Erik, dan dari beliau saya mendapat informasi ke mana harus mengirim naskah. Naskah saya kirim dalam bentuk hardcopy. Setelah sabar menanti akhirnya datang kabar bahwa naskah saya di-acc. Koprol. Kayang. Jingkrak. Semaput bahagia.

Edit, Edit, Edit

Jangan dikira, mengedit itu gampang. Setelah acc, naskah ini harus menjalani perjalanan panjaaaaaaang sampai akhirnya diterbitkan dalam bentuknya yang sekarang. Pertama format diganti, halaman dikurangi. Lalu saya diminta menambah jumlah cerita hingga 20. Lalu ada perubahan lagi, jumlah cerita tetap 10 tetapi halaman ditambah. Lalu ada penggantian lagi mengenai guideline ilustrasi. Lalu text bahasa Inggrisnya dihilangkan. Selama proses ini, saya menurut saja pada arahan Editor, karena sebagai pemula saya punya keyakinan pasti editor lebih tahu selera pasar dan konsep yang paling pas untuk naskah saya. Selain saya belajar juga dari para editor keren Mbak Tiara Andarastuti dan terakhir Mas Didit dari Tiga Serangkai. Setelah hampir satu tahun, naskah sudah boleh diilustrasi. Setelah sampai di tahap ini proses berjalan lancar hingga satu persatu buku terbit (buku pertama terbit Juli 2014 dan judul lain menyusul di bulan berikutnya).

Ternyataaaa kejutaaan! Walaupun proses penerbitannya memerlukan jalan yang berliku-liku, buku ini mendapat respon yang sangat baik dari pasar. Angka penjualannya hingga bulan Desember 2014 mencapi lebih dari 8200 copy (and it keeps selling). Mungkin bukan jumlah yang fenomenal dibanding buku-buku lain, tapi saya tetap bersyukur. Setiap naskah punya jalan masing-masing, dan inilah jalan naskah untuk Seri Dongeng Binatang.

Oke sekian 🙂 Semoga sharingnya bermanfaat.

Book trailer dapat dilihat di link ini.

Yovita Siswati

 

Iklan