Menulis Buku Anak Dengan Metafora – Part 2

Melanjutkan tulisan saya Menulis Buku Anak dengan Metafora – Part 1, sekarang saya akan sedikit bercerita tentang salah satu sesi yang saya ikuti dalam forum AFCC yang juga membahas tentang penggunaan Metafora untuk buku anak dengan tema-tema sulit.

Judul sesi adalah “Dealing with Difficult Topics in Children’s Literature”. Pembicaranya adalah Lin Ziaoling, Joanne Poon dan Sabrinah Morad dengan moderator Melanie Lee. Ketiga pembicara adalah ilustrator dan penulis buku anak. Masing-masing pembicara menceritakan tentang proses kreatif penulisan buku-buku mereka yang mengandung tema pelecehan seksual, depresi dan penyakit berat, mulai dari riset hingga bagaimana menghindari bias sosial dan budaya saat mepresentasikan tema ini dalam cerita untuk anak.

Jun and the Octopus

Buku ini ditulis oleh Goh Eck Keng. Saat sesi berlangsung sang penulis tidak dapat hadir secara langsung, namun melalui video.

Secara singkat, buku ini bercerita tentang Jun, seorang anak nelayan yang ingin bisa berenang seperti teman-teman lainnya. Karena orangtuanya sangat sibuk, Jun meminta bantuan Uncle Mok, yang ternyata adalah seorang predator, untuk mengajarinya berenang.

Metafora yang ada di dalam buku ini tidak banyak, hanya ada di satu halaman saja yaitu saat Jun menggambarkan mimpi buruk yang dialaminya.

“Then the nitghtmares began. It was always the same one. Jun was diving among the corals. An Octopus reached out, caught his leg, wrapped its arms around his body and pulled him down into its cave. Then he saw it shoot out another arm to catch hold of someone else. It was his baby sister, An!”

Si predator digambarkan sebagai gurita raksasa yang membelit dan memasukkan Jun ke dalam sarangnya. Penulis tidak berusaha menutupi fakta melainkan menghaluskannya dengan menggunakan kiasan-kiasan. Karena tema buku yang berat, walaupun sudah digambarkan dengan halus dan dengan metafora, tetap saja buku ini harus dibaca dengan pendampingan orang tua. Di bagian akhir buku terdapat catatan penting yang menjelaskan bahwa buku ini dapat digunakan oleh para orang tua untuk membuka diskusi dengan anak tentang topik yang sensitif ini.

Brave Maeve

Buku kedua yang dibahas adalah “Brave Maeve” yang ditulis oleh Jonanne Poon. Buku ini bercerita tentang perjuangan seorang gadis kecil bernama Maeve melawan penyakit kanker.

Buku ini ternyata terinspirasi dari kisah nyata sang Penulis dan putrinya Maeve. Maeve dalam kehidupan nyata didianosa menderita kanker Lymphoma stadium 2 di usia 3 tahun. Karena kesulitan mendapatkan buku anak-anak yang bisa menjelaskan tentang penyakit kanker pada putrinya dengan cara yang tidak terlalu serius atau menakutkan, maka Joanne pun memutuskan untuk menulis buku sendiri. Di dalam bukunya, edukasi tentang tentang penyakit kanker dilakukan melakui bahasa-bahasa kiasan. Cukup banyak metafora yang dgunakan dalam buku ini.

Si kanker dianalogikan sebagai batu beracun yang tinggal diam-diam di dalam perut Maeve. Sedangkan cairan kemoterapi diibaratkan pasukan prajurit baik yang akan berperang melawan prajurit nakal dalam tubuh Maeve. Begini beberapa cuplikan dalam buku :

“There was once a little girl named Maeve. She had a stone. It was no ordinary stone. It was a poisonous stone. Maeve didn’t know this for it was hiding secretly in her tummy…

Then one day the stone started to grow. It grew and grew. And when it stretched out, it gave Maeve a pain in her tummy…”

Bisa dilihat kan, bagaimana Penulis memperkenalkan kanker dengan metafora batu beracun. Di halaman lain ditulis :

“We’re going to put some good soldiers in you to fight the bad soldier left by the stone,” the doctor told Maeve…. When the soldiers fight fiercely, the battles gave Maeve a fever. Sometimes, the fighting made Maeve’s food felt funny. .. The battles also made all of Maeve’s hair fall out…”

Di bagian ini, Joanne Poon cleverly describes chemotherapy and its effect to Maeve. Ilustrasi buku ini pun dibuat dengan warna-warna ceria, sehingga tidak menakutkan bagi anak-anak.

Grey Bear Days

Buku terakhir yang dibahas adalah Grey Bear Days, karangan Sabrinah Morad. Buku ini adalah my most favorite karena metaforanya, menurut saya sangat puitis. Buku ini bercerita tentang seorang anak yang ibunya menderita depresi. Depresi dalam cerita digambarkan sebagai Grey Bear atau beruang abu-abu yang jelek, besar and to my eyes, looks malicious.

Bahasa-bahasa kiasan dapat ditemukan hampir di keseluruhan isi buku. Tokoh utama dalam buku ini adalah seorang anak laki-laki bernama Little Bee yang hidup bahagia bersama Mamanya. Mereka sering berkebun bersama, membuat kue bersama dan membaca buku bersama. Namun kebahagiaan itu mendadak hilang saat sang Grey Bear datang, tanpa diundang, tanpa diharapkan. Hingga akhirnya si Greay Bear menguasai Mama. Mama tidak lagi mau berkebun bersama atau membacakan buku untuk Little Bee.

“The Grey Bear holds on to Mama so tightly that she and Little Bee can’t cuddle together with a book. Soon Mama is completely engulfed by the Grey Bear’s darkness…”

Buku ini juga secara indah dan menyentuh menceritakan bagaimana kemarahan Little Bee pada si Grey Bear yang telah mengambil senyum Mama dan bagaimana si Little Bee berusaha mengambil kembali Mamanya dari cengkraman si Grey Bear.

“….Little Bee tries hard to get Mama away for the Grey Bear. He brings him flowers, cakes, interesting books and small creatures he finds in the garden. But the Grey bear keeps dragging Mama back to that dark, lonely place… where Little Bee cannot follow….”

Buku ini juga bercerita bagaimana Little Bee dan Mama harus berani dan sabar hingga akhirnya bisa mengusir si Grey Bear. Saya sudah membacakan buku ini pada si Adik. Sepanjang cerita, si Adik penasaran, siapakah atau apakah si Grey Bear yang nakal ini. Di akhir cerita saya menerangkan bahwa Grey Bear adalah depresi. Dan… saya pun jadi diskusi panjang lebar dengan si Adik tentang hal yang satu ini.

Jadi, apa pelajaran yang bisa dipetik dari menulis dengan metafora?

  1. Cara menulis seperti ini bisa dijadikan alternatif dalam mempresentasikan tema-tema sulit bagi anak-anak
  2. Tidak perlu takut menulis dengan menggunakan metafora, walaupun tetap harus berhati-hati, terutama untuk topik-topik serius dan sensitif
  3. Metafora membantu penulis dalam mengolah ide-ide cerita yang kompleks dengan cara efektif dan dapat dipahami anak-anak

Pertanyaan selanjutnya, apakah saya juga akan mencoba menulis menggunakan metafora. Hm, saya sudah mencobanya, pada sebuah naskah yang sekarang sedang dalam proses ilustrasi. Semoga saja hasilnya bagus.

Thanks for reading!

Iklan