Menulis Buku Anak Dengan Metafora – Part 1

Paragraf di atas adalah definisi metafora di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Secara tata bahasa majas metafora dapat dianggap juga sebagai suatu proses menggunakan analogi atau kiasan untuk memahami pengalaman hidup (Lakoff Johnson, 1980)

“Majas Metafora” bukanlah hal yang baru buat saya, karena perihal per-majasan ini telah diajarkan sejak SD. Tetapi, saya tidak pernah memikirkan penggunaannya dalam buku anak sampai saya  mengikuti sebuah acara diskusi dengan Jose Louis Peixoto, seorang penyair dan penulis dari Portugal, yang diselenggarakan oleh KPBA pada 30 October tahun 2018 lalu. Informasi tentang siapa itu Peixoto bisa dibrowsing di internet. Secara singkat, ia adalah salah satu novelis Portugal yang karyanya sudah banyak mendapatkan berbagai penghargaan dan diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa di dunia. Di tahun 2016, Peixoto menulis sebuah buku anak yang berjudul “The Mother that Rains” atau “La Madre que Ilovia“.

Berdiri : Jose Louis Peixoto, Duduk : Duta Besar Portugal untuk Indonesia
 
Di dalam pertemuan yang berlangsung selama tiga jam itu, Peixoto banyak membahas tentang bukunya yang bercerita tentang seorang anak laki-laki yang ibunya adalah hujan. Seting buku ini adalah di sebuah kota yang sering sekali hujan. Dan di kota itu, hujan diasosiakian dengan sadness alias kesedihan. Menurut sang penulis, buku ini adalah “a metaphor of motherhood”. Menurut saya abuku ini adalah a metaphor of an absent mother. Dengan kata lain, buku ini adalah sebuah metafora tentang seorang anak yang tumbuh besar sendirian dan mengganggap hujan adalah ibunya, yang menemaninya saat ia masih bayi, saat ia mengerjakan PR, dan saat bermain.
 
 
Kira-kira begini versi singkat ceritanya dalam bahasa Inggris :
 

Once there was a little boy whose mother was the Rain
He was a normal little boy but she was the Rain
She was a good mother, a loving mother, and when he did his mathematics at school, she pitter pattered the answers in rain drops to help him.
Two plus two and four rain drops fell onto his page.
But because she was the Rain, she could not always be there.
Rain has to travel from region to region and country to country.
The little boy did not like it when she was away.

He felt lonely.

He pleaded for her to stay and she did, long into summer.
Summer told her it was time to go and Wind helped to push her along.
The sun and the rain blended into a rainbow.
And then she went and rained where she must rain.
To stay a little longer with her son, she changed herself into snow.
He played with the snow and shaped her into a Snow-Mum that he could actually hug.
But all too soon that time was done and she melted away.

The little boy was so sad.

Rain went to rain and then came back to look for him.
She could not see him anywhere.
She rained on the mountains and the fields, the streets and the hills.
In alleys, up against windows, looking in and on and under in her search for him.
And then she looked up and saw her child.
There he was on a parachute, slowly falling, like raindrops, among the raindrops, within the caress of his mother.
The little boy told his mother:

“Now I can see the world from your perspective.”
You must fall and nourish the Earth and I will live below and appreciate all that you do.

Bagaimana? Bisa mengenali dan memahami metofora yang ada di dalam cerita ini kan? Indah metaforanya? Sedih? Atau malah gagal paham?

Jadi, saya ulang sekali lagi : Metafora adalah suatu cara mengungkapkan atau menceritakan sesuatu tidak secara langsung tetapi menggunakan kiasan-kiasan.

Biasanya metafora digunakan di dalam buku anak dengan tema-tema sensitif, seperti kesedihan, perpisahan, kehilangan orang tua, penyakit berat, kematian, dan lain sebagainya.

Di dalam forum diskusi itu, saya sempat bertanya : “how can you be sure that children will understand the metaphors?” Ya, saya saja yang orang dewasa perlu berpikir lebih keras to read between the lines, alias untuk memahami yang tersirat di balik cerita The Mother That Rained, apalagi anak-anak.  

Pertanyaan saya dijawab : “Do not underestimate Children’s mind.”Children has less problem than adult, karena itu anak-anak dalam kebanyakan kasus justru dapat melihat dengan sudut pandang yang lebih jernih dan tidak ribet.  Be true to yourself, menulislah dengan jujur, and dont be afraid to be misunderstood dan jangan takut akan disalaphamami. Jleb.  

Pexioto juga menekankan pentingnya kerjasama dengan ilustrator untuk mewujudkan metafora yang sempurna, bukan hanya dari sisi text tetapi juga gambar harus bisa bercerita.  Ilustrasi untuk buku ini dibuat oleh Daniel Silvestre da Silva.

Beberapa bulan setelah diskusi dengan Jose Louis Peixoto, saya kembali bersinggungan dengan issue the use of metaphor in children books saat mengikuti suatu sesi di forum AFCC bulan September 2019 lalu. Ceritanya bisa dibaca di sini : Menulis Buku Anak Dengan Metafora – Part 2  

Iklan
Ditandai sebagai: