Dari Akatara Pitching Forum “From Book to Screen” 2019 – Part 1

Sesuai dengan janji saya beberapa bulan lalu, saya akan membagikan pengalaman saya mengikuti Akatara Pitching Forum “From Book to Screen” pada bulan September tahun 2019 lalu. Saya tidak tahu apakah forum serupa akan diadakan lagi tahun 2020, namun semoga saja pengalaman mengikuti pitching forum ini bisa bermanfaat untuk teman-teman penulis yang berniat mengalihwahanakan bukunya.

Apa itu program “From Book to Screen”?

From Book to Screen

“Book to Screen” adalah salah satu program yang diselenggarakan oleh Komite Buku Nasional (KBN) bekerjasama dengan Badan Perfilman Indonesia (BPI) dan Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi). Dalam program ini KBN akan menyeleksi buku-buku yang dinilai layak untuk diangkat ke layar lebar. Program ini berawal dari keinginan untuk menyajikan tontonan bermutu pada khalayak dengan cerita-cerita yang diambil dari buku-buku berkualitas. Buku-buku yang lolos seleksi berhak mengikuti Pitching dalam forum Akatara.

Pitching adalah salah satu bentuk presentasi untuk menawarkan karya pada investor. Dalam kasus ini pitching buku ke produser atau investor film

Akatara sendiri adalah program dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang mempertemukan film maker dengan investor dalam suatu Film Financing Forum. Program dalam Akatara Forum bukan hanya “Book To Screen” tetapi juga pitching proyek-proyek pilihan dari para filmmaker yang telah lolos seleksi oleh Akatara, workshop , talkshow dan kegiatan lain yang semuanya berhubungan dengan industri perfilman.

Proses Seleksi

Seleksi dilakukan online, dengan mengisi formulir google doc. Seleksi dilakukan dalam dua tahap. Dalam tahap pertama akan dipilih 30 buku terbaik. 30 buku ini akan dipamerkan dalam LitBeat Festival tanggal 2-3 September 2019 di Perpustakaan Nasional Jakarta. Dari 30 akan dipilih lagi 10 besar yang akan mendapatkan kesempatan untuk melakukan pitching di hadapan dewan juri dalam forum Akatara tanggal 21 September 2019 di Hotel Sultan.

Tadinya saya ragu-ragu mau ikut atau tidak, sekain karena deadline mepet (tidak mepet sebenarnya, tetapi karena saya disibukkan oleh proyek lain, saya baru ngeh adanya program ini saat sudah mendekati deadline), juga karena tidak yakin cuti saya masih ada untuk hadir di Perpustakaan Nasional kalau lolos seleksi pertama.

Long story short, saya akhirnya mendaftar juga, di hari terakhir, di jam-jam terakhir, saat injury time. Ada dua buku yang saya daftarkan :

Masih ingat dua buku di atas? Kalau sudah lupa bisa baca kembali artikel ini :

Alasan saya memilih kedua buku ini karena kalau difilmkan sepertinya akan menghasilkan gambar yang bagus.

Cerita Kota Tua bersetting di kawasan pecinan, Pasar Lama Tangerang yang sarat karakter, ada juga beberapa elemen budaya di buku itu yang sepertinya akan indah kalau dilayar lebarkan.

Cerita Topeng Angker, berseting di kota Indramayu dan bercerita tentang penari topeng Indramayu yang sepertinya kalau diwujudkan dalam bentuk gambar bergerak akan bagus dan menarik.

Kriteria seleksi awal, yang sepertinya juga menjadi kriteria utama agar sebuah buku bisa alihwahanakan ke layar lebar, adalah sebagai berikut:

Apakah buku sukses secara komersial? Di formulir pendaftarkan ditanyakan berapa banyak copy yang sudah terjual. Ya. Ini penting. Tidak ada produser film yang akan tertarik memfilmkan buku yang tidak terlalu dikenal, walaupun buku yang banyak pembacanya belum tentu juga menjadi film yang banyak penontonnya. Kedua buku yang saya ajukan sudah cetak ulang beberapa kali. Jadi kriteria pertama ini : checked.

Apakah buku berkualitas? Di dalam formulir juga ditanyakan apakah buku sudah pernah mendapatkan penghargaan. Ini juga penting karena tujuan dari program “Book to Screen” adalah mengangkat buku bermutu ke layar lebar untuk menghasilkan tontonan berkualitas. Buku Misteri Kota Tua kebetulan masuk dalam Honor List IBBY 2016.

Apakah akan bermanfaat apabila buku ini diangkat ke layar lebar? Salah satu pertanyaan yang harus dijawab adalah : mengapa buku ini layak dijadikan film? Waktu itu saya menjawab kalau kedua buku saya itu selain berisi cerita yang seru dan menghibur juga sarat dengan ilmu pengetahuan terutama tentang sejarah.

Kejutan yang pertama salah satu buku yang saya ajukan : Misteri Kota Tua, lolos seleksi dan bisa dipamerkan di Festival Litbeat. Bagaimana perjalanan selanjutnya di Festival tersebut bisa dibaca di tulisan selanjutnya : Dari Akatara Pitching Forum : From Book to Screen 2019 – Part 2 dan : Dari Akatara Pithing Forum : From Book to Screen 2019 – Part 3.

Iklan