Historical Fiction Untuk Anak-Anak: Bringing History to Life Part 1

Melanjutkan artikel terdahulu tentang Historical Fiction : Memoir Untuk Anak-anak, saya akan membagikan juga sekelumit pengetahuan yang saya dapat saat mengikuti salah satu sesi di AFCC 2018 yang membicarakan tentang penulisan Historical Fiction untuk anak-anak.

Sesi yang saya ikuti berjudul “History Hunter” dengan pembicara Mark Greenwood. Mark Greenwood adalah seorang penulis buku anak-anak dari Australia yang sangat menyukai sejarah. Semua buku yang ditulisnya memiliki tema atau latar belakang sejarah. Buku yang dibahas dalam sesinya adalah serial Historical Mysteries. 

Historical Mysteries

Tema : Cold Case!

Iya, buku-buku ini berisi kisah-kisah misterius dalam sejarah Australia yang tidak terpecahkan hingga saat ini.

Misalnya buku berjudul “The Lost Explorer” berisi cerita tentang seorang penjelajah ternama, Ludwig Leichhardt yang hilang saat sedang melakukan perjalanan rintisan dari bagian Timur ke Bagian Barat Australia pada tahun 1848. Buku lain dalam seri ini, yang berjudul “The Last Tiger” menceritakan tentang species langka Tasmanian Tiger yang masih dilihat orang di beberapa tempat, padahal menurut laporan species ini sudah punah sama sekali sejak tahun 1936.

Tema yang menarik.

Gaya bercerita

Berbeda dengan buku Memoir yang bergaya tutur ala buku harian, serial History Mysteries menggabungkan gaya bercerita reportase investigatif dengan narasi fiksi. Bagaimana caranya?

Dengan mengabungkan setting masa lalu dan masa kini serta membaurkan alur maju dengan alur mundur. Semuanya diceritakan dalam sudut pandang orang ketiga maha tahu.

Contohnya, unuk buku The Lost Explorer, Mark Greenwood mengawali ceritanya dengan pendahuluan yang memberikan fakta-fakta awal seputar misteri seputar menghilangnya Leichhardt. Bab 1 dimulai dengan kisah rekaan tentang saat-saat terakhir Leichhardt sebelum hilang ditelan debu padang pasir Australia dalam keadaan lapar dan haus. Kenapa rekaan? Karena tidak ada yang tahu bagaimana akhir kisah Leichhardt sebenarnya. Bab 2 dan 3 menceritakan tentang Leichhardt yang baru akan memulai expedisinya bersama 6 orang anggota tim, termasuk dua orang aborigin.

Sementara bab 4 menggambarkan kebingungan dan spekulasi yang berkembang setelah Leichhardt tidak muncul di kota tujuan akhir di tanggal yang telah diperkirakan. Bab-bab selanjutnya mengisahkan tentang temuan-temuan yang diperkirakan adalah peninggalan tim expedisi serta penelitian yang dilakukan oleh para peneliti masa kini untuk mengetahui nasib akhir Leichhardt dan rombongannya.

Bab-bab awal cerita lebih bergaya narasi, bagaikan kita mengikuti sendiri perjalanan Leichhardt dan mengikuti jalan pikirannya. Bab-bab akhir lebih berisi laporan investigasi penyelidikan hilangnya Leichhardt.

Cara bercerita yang menarik, tetapi (menurut saya) punya potensi untuk menjadi membosankan. Bagaimana supaya tidak membosankan?

Jawabannya adalah dengan : menyeimbangkan interpretasi kreatif dari kejadian yang mungkin terjadi dengan fakta-fakta sejarah yang memang sudah diketahui. Ribet ya?

Sekilas iya. Namun Mark Greenwood bersedia membagi tipsnya dalam membuat kesimbangan di atas dalam sesinya di AFCC. Tips yang utama dan pertama : extensive research is a must! Riset yang mendalam akan memampukan penulis membuat deskripsi seting dan situasi yang detail. Riset juga membuat penulis dapat membahami jalan pikiran tokoh utama. Riset dapat membantu melengkapi buku yang ditulis dengan foto-foto, peta, dan ilustrasi yang hidup. Di dalam sesinya, Mark juga bercerita tentang berbagai tantantan dan keseruan yang dihadapinya dalam proses riset, termasuk riset lapangan.

Buku lain sejenis

Membaca buku-buku karya Mark Greenwood mengingatkan saya akan serial Horrible Histories karangan Terry Deary. Persamaannya, dua-duanya sangat kental dengan tema non-fiksi. Perbedannya, Horrible Histories tidak mengandung narasi fiksi, semuanya non fiksi tetapi gaya berceritanya nyeleneh luar biasa (saya tidak pernah bisa tidak tertawa terpingkal-pingkal kalau membaca serial Horrible Histories, judul manapun, karena gaya berceritanya yang bluntly, blak-blakkan dan humoris serta penuh sarkasme). Juga serial Magic Tree House yang memadukan fakta non fiksi dengan fantasi di mana si tokoh utama bisa menjelajah ke masa lalu.

Bagaimana di Indonesia? Sepertinya buku seperti ini belum ada. Atau sudah ada tetapi saya tidak tahu? Tolong info saya kalau memang ada sebagai bahan referensi. Semoga tulisan ini menginspirasi dan bisa ada buku-buku sejarah Indonesia yang seperti ini nanti.

Oiya, selain sesinya Mark Greenwood, saya juga sempat bertemu dengan seorang penulis dari Australia lainnya, Pamela Rushby, yang juga gemar memgolah tema Historical Fiction dalam novelnya. Pengalaman saya, saya tulis di artikel : Historical Fiction Untuk Anak-Anak : Bringing History to Life – Part 2

Baca juga:

Iklan
Ditandai sebagai: