Behind the Scene – Perangkap Hebat Soma (part 1)

Baiklah, sekarang saatnya saya ceritakan kisah mendebarkan, dan tak terlupakan dari penciptaan buku ini :”Perangkap Hebat Soma”.

Buku ini sebenarnya sudah terbit sejak akhir 2018 dan sudah dilaunching dalam forum International Children Contents Right Fair di Chiang Mai, Thailand tahun di November 2018 lalu.

Workshop Room to Read

Semua berawal saat saya mengikuti audisi untuk mengikuti workshop Room to Read yang diadakan pada bulan Januari 2018. Room to Read adalah organisasi nirlaba international yang salah satu programnya adalah pengembangan literasi untuk anak. Di Indonesia, Room to Read bermitra dengan Provisi Education. Silakan browsing sendiri di sini untuk tahu lebih banyak.

Kenapa saya ingin ikut workshop ini? Karena saat saya berada di forum AFCC tahun 2017, saya berkesempatan melihat-lihat buku-buku hasil pelatihan dalam NGO ini yang kebetulan dilaunching dalam event tersebut. Saya jadi ingin bisa menulis buku seperti itu karena bukunya, asli, bagus-bagus. Ceritanya seru dan gambarnya menarik.

Baca juga : Dari AFCC 2017 : Sesi Indonesian Mystery and Historical Fiction

Long story short, saya ikut audisi dan lolos. Jangan tanya bagaimana caranya bisa lolos, karena itu adalah salah satu misteri dunia dan akherat.

Transformasi Selama Workshop

Saya tidak akan bercerita panjang lebar tentang workshop ini karena sudah banyak cerita lengkap bertebaran di internet. Salah satunya liputan detail dari blog Mbak Dian Onassis yang bisa dilihat di sini.

Selama workshop saya menjadi bagian dari Tim Penerbit Kanisius dengan pembimbing editor Mbak Lani dan disainer Mas Galuh. Ada 6 penulis ketjeh yang tergabung dalam group saya.

ki-ka : Mbak Lutfia, Mbak Christine Lerin, Mas Adji, saya, Mbak Lani, Mas Galih, Mbak Evi dan Mbak Niar

Workhop ini merubah cara pandang saya terhadap beberapa hal, terutama dalam hal Penciptaan Karakter. Saya sadar betul bahwa selama ini gaya menulis saya adalah “plot-driven” yang lebih senang berfokus pada alur dan action. Selama workshop saya belajar bagaimana menulis dengan pendekatan “character-driven“, membuat karakter penuh dan tiga dimensi. Perbedaan antara character-driven dan plot-driven mungkin, ya, mungkin, akan saya ceritakan di lain artikel (baru mungkin aja lo ya…)

Ada beberapa hal lain yang saya pelajari dalam workshop, namun yang paling berkesan dan saya pikir akan mentransformasi cara saya menulis untuk selamanya adalah dalam hal penciptaan karakter alias penokohan.

Kembali ke Banten Selatan

Saat audisi saya mensubmit 2 cerita. Dua-duanya tidak terpakai. Selama workshop saya diminta mengembangkan 3 cerita baru, satu yang berfokus pada karakter, satu yang berdasarkan tema dan satu lagi adaptasi cerita rakyat. Yang lolos s-a-t-u. Itu juga sudah untung.

Saya menciptakan Soma, si karakter utama dalam buku ini saat sedang membuat cerita bertema Fear of Something. Konsep awal yang saya buat, Si Soma ini adalah typical anak pemimpin di dalam gengnya yang pemberani kecuali terhadap belut. Nahasnya saat itu adalah sedang musim menangkap belut, jadi gimana dong, ketua geng masak ngibrit waktu ditantang menangkap belut?

Dalam perkembangannya, Alberto Santos, sang mentor dari Room to Read, merubah konsep saya sama sekali menjadi Narrative Non Fiction. Jadi, cerita tidak lagi berfokus pada masalah Soma menaklukan rasa takut tetapi lebih pada detail kegiatan menangkap belut yang asyik dan menyenangkan, tetap dibubuhi konflik ringan tentu saja. Mengenai apa itu Narrative non Fiction secara detail mungkin akan saya ceritakan di lain artikel, kalau saya sempat.

Bagaimana saya bisa mendapatkan ide tentang Soma dan belut?

Well, it all goes back to the year of 2016. Iya, ide ini datang dari aktivitas riset saya tahun 2016 ke sebuah Kasepuhan di Banten Selatan. Saat itu saya sedang menyusun cerita bertema Upacara Adat, sebuah proyek dari Direktorat Kepercayaan dan Tradisi Kemdikbud.

Baca juga : Keseruan Helaran Gegenek dan Sepitan – Seri Pengenalan Budaya

Selama proses riset, saya menemukan banyak sekali bahan menarik, bukan saja untuuk proyek Upacara Adat yang menjadi tujuan utama saya blusukan menembus longsor tanah merah selama berjam-jam tetapi juga cerita-cerita lain, termasuk salah satu hasilnya adalah naskah novel yang baru saja selesai saya tulis.

Bertemu ketua adat dan aparat desa di lokasi riset

Proses riset saya bisa dilihat di video ini : Behind the Scene – Heleran Gegenek dan Sepitan

Kembali ke proses penulisan dalam Workshop Room to Read, apa lagi yang terjadi setelah saya menyerahkan naskah saya di hari terakhir workshop? Banyak. Bahkan yang sangat tak terduga.

Cerita selanjutnya bisa dilihat di sini : Behind the Scene – Perangkap Hebat Soma (part 2)

Detail buku Perangkap Hebat Soma bisa dilihat di SINI

Book trailernya ada di SINI

Iklan
Ditandai sebagai: